Sejarah Perjalanan Wali Kota Surabaya

Tri Rismaharini alias Risma tercatat menjadi wali kota ke 23 Surabaya. Perempuan berjilbab ini bakal mewarnai masadepan Surabaya hingga lima tahun ke depan. Karekater kota ini memang pasang surut gegap gempita sesuai karakter sang pemimpin.

Setiap nama wali kota memiliki gayanya sendiri, yang menghantarkan Surabaya selalu berubah di setiap zamannya. Catatan ini bakal mengutip kisah para wali kota Surabaya sejak wali kota pertama hingga ke 22. dari Mr. A. Meyroos hingga Tri Rismaharini.

Meyroos dilantik tahun 1916 atau sepuluh tahun sejak Pemkot Surabaya alias Gemeente van Soerabaia dibentuk. Namun dia sejatinya tidak memberi banyak perubahan. Dia seorang administratur.  Tugasnya masih menata sistem di masa-masa pertama kota ini baru, menggali sumber pendapatan, dan lain-lain. Fondasi yang dibangun di Surabaya itupun dianggap berhasil karena paska pensiun dari Surabaya tahun 1921 dia diangkat jadi wali kota Batavia alias Jakarta.

GJ Dijkerman. Wali Kota kedua Surabaya yang merevolusi perwajahan Surabaya. Dia yang merancang tata kota Surabaya dan membangun sejumlah bangunan dan kawasan yang monumental hingga sekarang. Tidak hanya kokoh namun juga indah.

Dialah yang merancang perlunya membangun balai kota yang berdiri hingga sekarang. Dia memanggil arsitek top C Citroen dan mengundang pemborong raksasa HV Hollandsche Beton Mij. Biayanya disiapkan 100 gulden untuk kompleks gedung raksasa. Namun baru bagian belakangnya yang rampung karena krisis. Bagian yang sekarang menjadi balai kota. Bagian depannya tidak pernah dibangun.

Bersama arsitek Citroen, dia menyulap sejumlah bangunan menjadi artistik, diantaranya Jembatan Gubeng, Jembatan Wonokromo (sudah hilang). Menata kawaswan industri di Ngagel, menata permukiman elit di Darmo dan Ketabangkali. Dan lain-lain.

HI Bussemaker diangkat pada 1929. Dialah walikota Malang pertama tahun 1908. Dia yang menata malang sebagai kota villa. Karakternya yang sama dengan pendahulunya menjadikan Surabaya lebih teratur di tangan Bussemaker. Dialah yang merancang sistam transportasi menjadi lebih tertib, seperti di Eropa, menata lagi jalur tram peninggalan lama, dokar, taksi, dan lain-lain. Bussemaker, menggedok Peraturan Pengangkutan Orang dengan Taksi di Surabaya,

Provinciaal Blad 1929 No. 2 pada 29 Mei 1929. Sistem angkutan massa yang sekarang tidak dipakai lagi.

Surabaya semakin lengkap, setelah fisik tertata, wali kota berikutnya  WH van Helsdingen bukanlah seorang perancang tata kota, namun ahli hukum.  Dia eks ketua Volksraad di Hindia-Belanda, merancang sejumlah undang-undang. Saat itulah penegakan hukum kota ini membaik antara 1936-1942.

Mr.W.A.H.Fuchter. Pada bulan Januari 1942, burgemeester alias wali kota Surabaya diberikan kepada Mr.W.A.H.Fuchter. Uniknya umurnya hanya satu bulan memerintah, karena pada februari Jepang masuk ke Indonesia.  Dan Fuchter ditawan sebelum meninggalkan balai kota.

Semasa Jepang, bukan orang Jepang yang memimpin namun  seorang Indonesia berdarah Batak. Radjamin Nasution. Dia adalah Karyawan pribumi yang cukup berwibawa di Gementee waktu itu. Nama lengkapnya Radjamin Nasution Gelar Sutan Komala Pontas, seorang ningrat tanah Mandailing. Namun hanya menjadi pejabat wali kota singkat dia diangkat Februari hingga September 1942.

Setelah itu diangkat militer jepang sebagai wali kota. Takahashi Ichiro dengan sebutan Shi Tyo, Radjamin menjadi wakil wali kota. Tidak ada kisah apapun selama masa Jepang. Saat Indonesia merdeka Radjamin kembali menjadi wali kota. Dia disibukkan dengan perang. Menyiapkan amunisi, hingga mengirim gaji karyawan di pengungsian di pelosok Jatim.

Namun jasanya yang monumental adalah gagasan memiliki taman makam pahlawan di depan THR yang semula adalah lapangan canna. Dialah yang memimpin upacara pemakaman pertama kala itu. Paska Radjamin, Mr Indrakoesoema menjadi wali kota di luar balai kota.

Indra adalah hakim di Pengadilan Surabaya. Dia menjadi wali kota hanya tiga bulan dari bulan Desember 1945 hingga Februari 1946. Dia diganti Mr Soerjadi hingga lima tahun. Dia disibukkan urusan perang dan tata pemeritahan yang amburadul.

Pada 1950, wali kota dijabat Doel Arnowo. Pejuang paling tersohor. Dia tokoh yang pernah jabatan Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Keresidenan Surabaya pada 27 Agustus 1945. Doel-lah yang mendorong agar Surabaya menjadi kota pahlawan dijamannya Tugu pahlawan dibangun.

Tahun 1952, wali kota dijabat Moestadjab Soemowidagdo. Namanya lebih akrab karena menjadi nama jalan di depan balai kota. Di masa pemerintahan Moestadjab pembangunan Surabaya dimulai lagi.  Berikutnya R Istidjab Tjokrokoesoemo (1956-1958). Kemudian Dr R Satrio Sastrodiredjo (1958-1964) dan  Moerachman,SH (1964-1965), Dua nama terakhir tampaknya semakin dilupakan. fotonmya tidak pernah dipasang di balai kota.

Ini karena keduanya adalah politisi PKI. Organisasi yang kelak dilarang. 27 September 1965, Surabaya dikejutkan oleh demonstrasi PKI yang  dikoordinasi BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita) Cabang Surabaya dipimpin Ny Moerahman. Massa PKI menurut versi militer merencanakan membunuh Gubernur Wiyono karena dicap "Setan Kota" Gedung Negara (Grahadi) dikepung. Saat itulah Moerahman digulingkan dan ditangkap.

Penggantinya adalah Kolonel R.Soekotjo (1965-1974). Dia diyakini peneliti belanda Poeze  sebagai pembunuh Paklawan Nasional tan Malaka.  Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi Brawijaya menembak tan di Kediri. Keberaniannya ini berbuah kursi wali kota oleh Presiden Soeharto.

Sejak saat itu Surabaya dipimpin militer. Kolonel HR Soeparno (1974-1979), Kolonel CPM Drs Moehadji Widjaja (1979-1984). Berikutnya Kolonel dr.H.Poernomo Kasidi yang memerintah dua kali masa jabatan hingga tahun 1994. Tidak ada inovasi karena sistem pemerintahan juga terpusat. Namun di masa Poernomo Kasidi cerita menjadi lain.

Inilah wali kota pertama yang mengubah wajah kota pra kemerdekaan. Dialah yang merancang rumah rumah susun. Memperbaiki semua kampung kumuh, menata sanitasi dan drainase kota. Makanya dia dijuluki wali kota got karena saban hari menyusuri setiap selokan. Dialah yang menciptakan pasukan kuning dan berorientasi kebersihan kota.

Kolonel H.Sunarto Sumoprawiro menjadi wali kota berikutnya. Ini dia wali kota paling kontroversial. Dia peduli wong cilik sekaligus akrab dengan pemodal. Di masanya para PKL begitu dimanja. Tidak pernah digusur. Namun banyak sekali aset pemerintah kota dijual, ditukar guling bahkan disewakan hingga puluhan tahun. Di jamannya, banyak kebijakan populis muncul.

Namun akhir jabatan Sunarto tragis. Dia sakit dan diberhentikan oleh DPRD Kota Surabaya sebagai wali kota diganti wakilnya Bambang DH. Banyak lawan politik Bambang menduga, Ada upaya merancang penggulingan Cak Narto dengan momen sakit dan menutup LPA Keputih sehingga Surabaya menjadi tidak terurus dengan sampah.

Sejak Juni 2002, Bambang diangkat sebagai Wali kota untuk menghabiskan sisa masabakti pasangan Narto-Bambang hingga 2005. Masa itu disibukkan dengan urusan rebutan politik. Lima tahun kemudian 2005-2010 Bambang menggebrak. Dia banyak menggarap isu populis, menata drainase kota secara besar besaran untuk menolak banjir, menata taman taman kota, memperbaiki sekolah, rumah sakit, dan terminal, menggratiskan biaya sekolah dasar menangah. Bahkan lebih banyak lagi.

Dia menganut mahzab developmentalis, pro pembangunan, PKL tergusur, hanya sebagian yang ditampung, rumah rumah liar digasak, pasar disulap jadi mall, dan lain-lain. Toh 2010 ini dia terpilih  kembali meskipun turun derajat menjadi wakilnya Risma. Lantas bagaiamana Risma mewarnai Surabaya?

Setelah dilantik sebagai Walikota Surabaya, perempuan kelahiran 20 November 1961 ini memang melahirkan berbagai kebijakan diprotes para politisi di DPRD Surabaya, diantaranya soal penataan reklame dan penolakannya atas pembangunan jalan tol di tengah kota.

Risma memang tidak terlalu kompromi dengan para pemilik modal. Julukan ‘keras kepala’ diberikan lawan politiknya, setelah Risma menolak permintaan DPRD kota itu untuk meninjau ulang beberapa kebijakannya. Misalnya soal Peraturan Walikota Nomor 56 dan 57 tahun 2010 tentang penataan reklame. Kebijakan ini intinya menaikkan tarif pajak reklame dari 100 persen hingga 400 persen untuk reklame berukuran delapan meter. Sebaliknya, reklame berukuran lebih kecil tarifnya diturunkan hingga 40 persen. Hingga kini, beliau menjadi idola masyarakat Surabaya bahkan Indonesia.

(sumber: www.aldofahreza.blogspot.com)

Wanita Penantang Matahari

Tak banyak bupati dan walikota wanita di Indonesia. Dari sekian jumlah yang bisa dihitung dengan jari, ada nama Tri Rismaharini. Wanita ini adalah Walikota Surabaya yang menjabat sejak tahun 2010.

Surabaya yang kita kenal adalah kota yang berkarakter keras dan berudara panas. Kini banyak hal mengubah kota itu. Terlihat lebih ramah, hijau dan sejuk. Puluhan taman dibangun dan beberapa bagian kota yang dahulu sepi dan mati, kini menjadi lebih hijau dan segar. Tiap sore dan akhir pekan warga Surabaya mendatangi taman-taman itu untuk sekedar melepas lelah dan bercengkrama dengan keluarga. Suasana yang tidak bisa didapatkan sebelum tahun 2008.

Sebelum terpilih menjadi Walikota, Tri Risma pernah menjabat Kepala Dinas Pertamanan dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya, 2005 –2010. Pada masa di dinas pertamanan, bahkan hingga kini menjadi Walikota Surabaya, Risma mengubah banyak hal. Taman kota yang dibangun adalah taman Bungkul di Jalan Raya Darmo, taman di Bundaran Dolog, taman Undaan serta taman di jalan Bawean serta puluhan taman lain di seluruh Surabaya.

Selain itu Risma juga berjasa membangun jalan bagi pejalan kaki dengan konsep moderen di sepanjang jalan Basuki Rahmat hingga jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman.

Penantang Matahari

Tak heran, karena kiprahnya itu, Tri Risma begitu dicintai warganya. Warga yang mencintainya bukan pemilik modal dan para birokrat, namun masyarakat menengah dan bawah yang menghargai jerih payah mantan kepala Dinas Pertamanan ini. Nyata sekali ketika dia mencalonkan diri menjadi walikota Surabaya. Di sudut-sudut kota, warga terutama ibu-ibu yang tergabung pada Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) selama berbulan-bulan menabung bersama untuk disumbangkan ke tim sukses Risma. Begitu juga ketika Risma terancam diberhentikan sebagai Walikota Surabaya. Risma yang didukung oleh sebagian besar warga Surabaya tetap bersikukuh, bahwa berbagai kebijakan kontroversinya dalam menata Kota Surabaya selama ini semata-mata untuk “kepentingan rakyat”.

Setelah dilantik sebagai Walikota Surabaya, perempuan kelahiran 20 November 1961 ini memang melahirkan berbagai kebijakan diprotes para politisi di DPRD Surabaya, diantaranya soal penataan reklame dan penolakannya atas pembangunan jalan tol di tengah kota.

Risma memang tidak terlalu kompromi dengan para pemilik modal. Julukan ‘keras kepala’ diberikan lawan politiknya, setelah Risma menolak permintaan DPRD kota itu untuk meninjau ulang beberapa kebijakannya. Misalnya soal Peraturan Walikota Nomor 56 dan 57 tahun 2010 tentang penataan reklame. Kebijakan ini intinya menaikkan tarif pajak reklame dari 100 persen hingga 400 persen untuk reklame berukuran delapan meter. Sebaliknya, reklame berukuran lebih kecil tarifnya diturunkan hingga 40 persen.

Dalam berbagai kesempatan, Risma menyebut langkahnya ini agar ‘Surabaya tidak menjadi hutan reklame’. Keberadaan reklame berukuran raksasa juga disebutnya “rawan dan membahayakan masyarakat jika roboh”. Klimaksnya, Januari tahun ini, Panitia Khusus (Pansus) hak angket DPRD Surabaya tentang kebijakan penataan reklame akhirnya mengeluarkan rekomendasi kepada DPRD Surabaya untuk mengusulkan pemberhentian Tri Rismaharini sebagai walikota. Namun bukan Rismaharini apabila tidak ‘melawan’. Selain tidak menghadiri sidang, Risma juga mengatakan bahwa tidak ada yang salah dari kebijakannya.

“Saya tetap berpedoman: kepentingan masyarakat itu yang utama, saya tidak akan berubah apapun resikonya, karena saya yakin suara rakyat itu suara Tuhan,” katanya, sebelum rekomendasi pansus itu dikeluarkan. “Saya tidak boleh bergeming karena keinginan bukan atas nama pribadi atau kelompok,” tegas Risma, seorang arsitek tamatan ITS itu.

Sikap menolak kompromi juga ditunjukkan perempuan ini, ketika menolak pembangunan jalan tol tengah Kota Surabaya. Padahal, rencana membangun jalan tol sepanjang 23,8 kilometer senilai Rp 8 triliun ini sudah disetujui pemerintah pusat dan didukung DPRD kota itu.

Apa alasan Risma? “Jalan tol itu tak akan menyelesaikan kemacetan, namun justru di masa depan akan memperparah kemacetan.” Dia kemudian mengusulkan agar meneruskan pembangunan jalan lingkar timur untuk mengurangi kemacetan dengan alasan pembangunan jalan tol ini akan mengorbankan ribuan warga yang harus digusur.

Apa yang diingini Risma sebenarnya? “Saya ngotot agar taman itu bisa dinikmati masyarakat, yaitu menjadi ruang sosial dan rekreasi bagi masyarakat tidak mampu,” ungkapnya. Itulah sebabnya, menurutnya, tidak ada taman di sudut-sudut Kota Surabaya yang berpagar. “Ini yang membuat taman kita tidak satu pun yang ’nggak laku.”

Wanita berkerudung ini sering dijuluki dengan ibu Giman, ibu ‘Gila Taman’. Ketika menjabat sebagai Kepala Dinas Pertamanan Surabaya dia rajin berkeliling kota sejak pukul 05.00 pagi untuk melihat taman-taman yang menjadi tanggung jawabnya ketika itu. Pun ketika dia menjadi walikota. Dia mengharuskan seluruh kepala instansi teknis untuk datang ke kantor pukul jam satu siang. Kenapa ? “Supaya mereka berkeliling dulu meninjau apa yang sudah mereka lakukan bagi masyarakat,” katanya. Menurutnya, kemajuan tidak selalu dikendalikan di belakang meja. “90 persen kemajuan adalah ketika kita berada di lapangan,” katanya.

Risma menyebut peran kedua orang tuanya mampu membentuk ‘karakter’-nya, termasuk ketika menghadapi persoalan politik dengan DPRD Surabaya. Secara khusus dia menyebut sosok mendiang ayahnya.

“Ayah saya sebetulnya berhak dimakamkan di makam pahlawan dan mendapat fasilitas sebagai veteran. Saya tahu dia menolak. ‘Saya berjuang untuk tidak dapat fasilitas, tapi untuk negara’. Ini membekas pada saya,” ungkapnya. “Saya takut melukai orang tua saya, kalau saya mengkhianati warga kota ini,” katanya diplomatis.

(sumber: kabarinews.com)

KATA HATI RISMA, KATA HATI RAKYAT

Apa kata hati Tri Rismaharini (Walikota Surabaya)? Berikut ini kutipan-kutipan bijak dari Ibu Risma dalam wawancaranya di Mata Najwa.

“Jabatan cuma titipan. Kalau saya tidak mampu, ya tidak bisa dipaksakan.”


***


“Saya berprinsip bahwa tanggung jawab saya yaitu masyarakat Surabaya lebih sejahtera.”


***


“Jadi walikota itu harus adil, tidak boleh membeda-bedakan. Ini yang sulit.


***


“Saya tidak berpikir apa gaya ini pantes buat walikota. Yang penting kalau satu masalah selesai, saya bisa kerjakan yang lain.


***


“Saya tidak peduli orang ngomong apa, karena ini saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan."


***


“Saya memang selalu mengecek sesuatu sampai ke hal detail.”


***


“Saya akan merasa puas dan senang kalau pekerjaan bisa berjalan baik. Itu yang buat saya semangat lagi."


***


“Awalnya saya berpikir penutupan lokalisasi akan menambah masalah baru. Tapi saya ikuti kata hati dan Tuhan tunjukkan jalan.”


***


“Saya telusuri kasus trafficking anak-anak, apa penyebabnya. Dari keluarga, sekolah dan pergaulan mereka."


***


“Saya sampai turun ke sekolah mereka, saya ajari mereka supaya tidak mempengaruhi anak-anak yg lain.”


***


“Saya sudah ikhlas kalau saya sampai mati karena masalah ini.”


***


“Saya pagi-pagi sudah keluar rumah tanpa perencanaan mau ke mana. Tapi saya selalu menemukan sesuatu di jalan.”


***


“Kadang bertemu dengan anak-anak jalanan atau yatim piatu. Saya ambil dan rawat mereka, saya sekolahkan.”


***


“Kalau saya pergi ke suatu tempat, saya temukan sesuatu dan langsung saya selesaikan masalahnya.”


***


“Ancaman ada. Tapi saya ikhlas, tinggal tunggu kapan Tuhan ambil nyawa saya.”


***


“Semua yang terbaik sudah saya berikan untuk rakyat Surabaya, semua yg saya miliki."


***


“Saya berikan ilmu dan pikiran. Saya sudah berikan semuanya.”


***


“Memang masih banyak rakyat kecil yang bergantung pada saya. Itu yg menjadi pertimbangan saya."


***


“Sebetulnya saya ikuti saja apa kata hati. Saya seperti diarahkan, mengalir saja.”


***


“Ah, saya tidak tertarik (untuk jadi Presiden). Surabaya aja cobaannya seperti ini. Bagaimana jadi Presiden?”


***


“Sekian juta orang gantungkan nasibnya pada kita. Bagaimana pertanggungjawabannya? Masa saya tidak boleh masuk surga?”


***


“Belah dada saya, lihat apa perasaan yang ada di hati saya. Tidak ada niat jd Presiden."


***


“Saya yang tahu siapa saya. Indonesia ini negara yang besar, tapi saya tidak punya apa-apa."


***


“Untuk anak-anakku, tidak usah berpikir asal dan siapa orang tua kalian. Kalian berhak untuk berhasil, karena Tuhan adil."


***


“Semakin lama semakin baik kalian, semakin banyak prestasi yang kalian raih. Terima kasih anak-anakku."


***


(Sumber: @matanajwa)