Tugu Pancoran: pematung utang, Bung Karno jual mobil

Manusia besar dengan gagasan besar. Itu sebuah julukan lain buat Bung Karno. Ciri-ciri manusia besar, terletak pada peninggalannya yang kekal. Dalam beberapa hal, Bung Karno memenuhi kriteria itu. Ajarannya tentang Marhaenisme, penemuan ideologi Pancasila, serta semangat kebangsaan, setidaknya masih bisa kita rasakan hingga detik ini. Sekalipun ia “dikubur” tiga dasawarsa lamanya, jejak-jejak peninggalan dan karya besar Bung Karno bergeming dari gerusan zaman.

Selain ide dan gagasan berupa isme, ajaran, spirit, dan nilai-nilai sosial dan politik, Bung Karno juga mewariskan monumen-monumen. Ia menggagas pembangunan masjid Istiqlal yang ia targetkan melebihi kekokohan candi borobudur. Ia merancang tugu selamat datang di Bundaran HI yang menjadi icon ibukota. Ia mendirikan tugu pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng. Ia juga mengobarkan semangat bangsa melalui Patung Dirgantara di Pancoran.

Nah, yang disebut terakhir, adalah fokus tulisan ini. Boleh dibilang, itulah peninggalan terakhir Bung Karno. Digagas tahun 1965, saat matahari kekuasaannya sudah condong ke barat.  Adalah pematung Edhi Sunarso yang mendapat kehormatan, mengerjakan pembuatan patung itu. Edhi adalah pematung kesayangan Bung Karno. Ia pula yang ditunjuk membuat patung “Selamat Datang” di Bundaran HI.

Edhi ingat persis, ketika instruksi Bung Karno diterimanya. Hatinya sempat mandeg-mangu, ragu-ragu, bimbang, dan galau. Sebagai seniman patung, ia belum pernah sama sekali membuat patung dengan bahan perunggu. Sementara perintah Bung Karno jelas, ia menghendaki patung dengan bahan perunggu.

Saat raut wajahnya sulit menyembunyikan perasaan hatinya, Bung Karno segera paham. Maka, berkatalah Bung Karno kepada Edhi, “”Hey Ed, kamu punya rasa bangga berbangsa dan bernegara tidak? Apa perlu saya menyuruh seniman luar untuk mengerjakan monumen dalam negeri sendiri? Saya tidak mau kau coba-coba, kau harus sanggup.”

Waktu satu minggu yang diberikan Bung Karno, dijawab tuntas oleh Edhi dengan mengumpulkan teman-teman pematung di Yogya, dan mewujudkan harapan Bung Karno dalam replika yang terbuat dari gypsum. Gaya melambaikan tangan laiknya orang menyambut kedatangan sahabat, diperagakan langsung oleh Bung Karno. Gaya itu pula yang kemudian menjadi model pada patung Tugu Selamat Datang di bundaran HI.

Nah, lain lagi kisah Patung Dirgantara, Pancoran. Proyek itu sempat mangkrak, alias terhenti. Peristiwa 30 September 1965, adalah pemicu terancam gagalnya pembuatan patung itu. Bung Karno menghadapi hantaman dari dalam negeri. Ia didemo nyaris tiap hari. Klimaksnya adalah penolakan MPRS atas pertanggungjawaban Bung Karno, terhadap peristiwa pemberontakan PKI tadi. Buntutnya sama-sama kita ketahui, Bung Karno dilengserkan, dan Soeharto diorbitkan.

Nasib patung Dirgantara yang digagas Bung Karno sebagai simbol semangat bangsa, terombang-ambing. Meski begitu, Bung Karno bukan manusia yang meninggalkan sejarah ke-plin-plan-an. Bung Karno tidak pernah mengajarkan sikap yang kurang bertanggung jawab. Alhasil, sekalipun nasibnya sendiri di ujung tanduk. Posisinya sebagai presiden terancam. Tekanan dalam dan luar negeri menghimpit dirinya, Bung Karno tetap komit.

Ia menyempatkan diri untuk memantau perkembangan proyek patung dirgantara tadi. Kepada Bung Karno, dengan nada prihatin, Edhi melaporkan kemandegan proyek tadi. Sekalipun pedestial atau tiang penyangga patung sudah selesai, tapi pekerjaan terancam mandeg, karena pemerintahan transisi tidak menggubrisnya. Di sisi lain, dalam status tahanan politik, dalam kondisi badan yang makin ringkih digerogoti sakit ginjalnya, Bung Karno keukeuh menuntaskan proyek terakhirnya.

Edhi sendiri tak sanggup meneruskan pekerjaan itu, mengingat dirinya pun sudah dililit utang untuk pekerjaan itu. Maklumlah, semua proyek pembuatan monumen yang ia kerjakan atas perintah Bung Karno, tidak menggunakan semacam dokumen perintah resmi negara. Murni soal kepercayaan.

Atas kondisi tersebut, Bung Karno lantas memanggil Edhi dan memberinya uang Rp 1,7 juta. Belakangan Edhi baru tahu, uang itu hasil penjualan mobil pribadi Bung Karno. Dengan uang itu, sekalipun belum cukup menutup semua biaya, Edhi langsung menuntaskan pengerjaan patung Dirgantara.

Alkisah di pagi yang cerah, di hari Minggu tanggal 21 Juni 1970, Edhie sedang berada di puncak Tugu Dirgantara. Tiba-tiba, melintas iring-iringan mobil jenazah. Salah seorang pekerja di bawah sontak memberi tahu Edhi, bahwa yang barusan lewat adalah iring-iringan mobil jenazah, jenazah Bung Karno, sang penggagas Tugu Dirgantara.

Lemas lunglai Edhi demi mendengar berita itu. Ia pun langsung turun dari puncak Tugu Dirgantara, dan menyusul ke Blitar, memberi penghormatan terakhir kepada Putra Sang Fajar.

Belum usai duka berlalu, Edhi bersemangat menuntaskan amanat terakhir Bung Karno. Sekalipun pekerjaan itu meninggalkan utang negara. Sekalipun patung itu tidak pernah diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Tugu Dirgantara tegar berdiri, menggelorakan semangat, mengekspresikan wajah Gatotkaca.  Wajah perkasa yang menyimpan duka di balik pembuatannya.

(sumber: rosodaras.wordpress.com)

Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia

Suatu badan yang dibentuk pemerintah Jepang tanggal 7 Agustus 1945. Badan ini bertugas menyiapkan segala sesuatu menyangkut masalah ketatanegaraan menghadapi penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Jepang kepada bangsa Indonesia.

Beranggotakan 21 orang, yang ditunjuk sebagai ketua Soekarno dan wakilnya Moh. Hatta. Sebagai penasehat ditunjuk Mr. Ahmad Subardjo, dan tanpa sepengetahuan pemerintah Jepang, PPKI menambah lagi enam orang, yaitu Wiranatakusumah, Ki Hadjar Dewantara, Mr. Kasman Singodimedjo, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, dan Ahmad Soebardjo. Badan ini dibentuk untuk menarik simpati golongan-golongan yang ada di Indonesia agar bersedia membantu Jepang dalam Perang Pasifik, yang kedudukannya semakin terdesak sejak 1943. Mereka juga berjanji memberi kemerdekaan pada Indonesia melalui 'Perjanjian Kyoto'.

Ketika Rusia bergabung dengan Sekutu dan menyerbu Jepang dari Manchuria, pemerintah Jepang mempercepat kemerdekaan Indonesia, yang oleh BPUPKI direncanakan 17 September 1945. Tiga tokoh PPKI (Soekarno, Hatta, dan Radjiman) diterbangkan ke Dalath (Saigon) bertemu Jenderal Terauchi yang akan merestui pembentukan negeri boneka tersebut. Tanggal 14 Agustus 1945 ketiganya kembali ke Jakarta dan Jepang menghadapi pemboman AS di Hirosima dan Nagasaki. Golongan tua dan golongan muda pejuang kemerdekaan terlibat pro dan kontra atas peristiwa pemboman Jepang oleh AS. Golongan muda melihat Jepang sudah hampir menemui kekalahan, tetapi golongan tua tetap berpendirian untuk menyerahkan keputusan pada PPKI.

Sikap tersebut tidak disetujui golongan muda dan menganggap PPKI merupakan boneka Jepang dan tidak menyetujui lahirnya proklamasi kemerdekaan dengan cara yang telah dijanjikan oleh Jenderal Besar Terauchi dalam pertemuan di Dalath. Golongan muda menghendaki terlaksananya proklamasi kemerdekaan dengan kekuatan sendiri lepas sama sekali dari pemerintahan Jepang. Menanggapi sikap pemuda yang radikal itu, Soekarno-Hatta berpendapat bahwa soal kemerdekaan Indonesia yang datangnya dari pemerintah Jepang atau dari hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri tidaklah menjadi soal, karena Jepang toh sudah kalah. Selanjutnya menghadapi Sekutu yang berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Oleh sebab itu untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia diperlukan suatu revolusi yang terorganisasi. Mereka ingin memperbincangkan proklamasi kemerdekaan di dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Perbedaan pendapat ini melatarbelakangi peristiwa penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB. Tindakan itu diambil berdasarkan keputusan rapat terakhir pemuda pejuang yang diadakan pukul 24.00 WIB menjelang tanggal 16 Agustus 1945 di Jl. Cikini, 71 Jakarta. Selain dihadiri pemuda-pemuda yang sebelumnya rapat di Lembaga Bakteriologi, Pegangsaan Timur, Jakarta, juga dihadiri oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dan dr. Muwardi dari Barisan Pelopor, serta Shodanco Singgih dari Daidan Peta Jakarta syu. Mereka bersama Chaerul Saleh sepakat melaksanakan keputusan rapat, antara lain "menyingkirkan Soekarno dan Hatta ke luar kota" dengan tujuan menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang. Shodanco Singgih mendapat kepercayaan melaksanakan rencana itu. Di Rengasdengklok, akhirnya Soekarno setuju memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan pihak Jepang. Pukul 23.00 WIB rombongan tiba di Jakarta dan menuju kediaman Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol No.1, dan di tempat tersebut naskah proklamasi disusun.

Setelah selesai, teks proklamasi dibaca dan dimusyawarahkan di hadapan tokoh-tokoh yang sebagian besar anggota PPKI. Sehari setelah itu, PPKI mengadakan sidang di Gedung Kesenian Jakarta dan dihasilkan beberapa keputusan, yaitu a) membentuk UUD; b) memilih Ir. Soekarno sebagai presiden dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil presiden; c) presiden untuk sementara waktu akan dibantu oleh sebuah komite nasional. Pada sidang hari kedua, PPKI menetapkan membentuk 12 departemen dan menunjuk para pejabat departemen dan menetapkan wilayah RI meliputi delapan propinsi sekaligus menunjuk gubernurnya. Pada sidang hari ketiga, presiden memutuskan berdirinya tiga badan baru yaitu Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dan dengan terbentuknya tiga badan ini, maka berarti pula PPKI dibubarkan.

(sumber: jakarta.go.id)

Kisah Begundal Karawang di Rawagede

Tragedi pembantaian di Kampung Rawagede, Rawamerta, Kabupaten Karawang, oleh tentara Belanda pada 9 Desember 1947 tak terlepas dari pergerakan kaum muda di wilayah itu. Rawagede diincar Belanda karena menjadi markas para laskar.

Ketua Yayasan Rawagede Sukarman (60) telah mendokumentasikan dalam bentuk tulisan ihwal tragedi pembantaian itu. Tulisan terebut diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Riwayat Singkat Taman Pahlawan Rawagede.

Buku setebal 40 halaman itu sudah tiga kali naik cetak. Total lebih dari 5.000 eksemplar yang tersebar di masyarakat.

Sukarman mengatakan bahwa sejak sebelum perang kemerdekaan, Rawagede sudah menjadi daerah markas para laskar pejuang. Rawagede dipilih karena saat itu dilintasi jalur kereta api Karawang-Rengasdengklok dan salah satu stasiun itu ada di sana.

Laskar pejuang yang dikenal di Rawagede sebelum kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, antara lain Laskar Macan Citarum, Barisan Banteng, MPHS, SP88, dan Laskar Hizbulloh. “Mulai 19 Agustus 1945, seluruh laskar itu bergabung menjadi BKR (Badan Keamanan Rakyat), markasnya ada di rumah-rumah warga. Ini jadi sorotan pemerintah Hindia Belanda.

Pada 1946, Letkol Suroto Kunto yang masih berusia 24 tahun ditunjuk sebagai Komandan Resimen Jakarta di Cikampek. Salah satu komandan kompinya adalah Lukas Kustaryo yang membawahi Karawang-Bekasi. Kharis Suhud, yang sebelumnya seorang petugas Perusahaan Jawatan Kereta Api, juga bergabung dengan BKR dan diangkat menjadi Komandan Kompi Purwakarta.

Pada 25 November 1946, Letkol Suroto Kuto yang sedang dalam perjalanan dinas menggunakan kendaraan diculik laskar rakyat yang pro-Hindia Belanda di daerah Rawa Gabus, Kabupaten Karawang. Mobil yang ditumpanginya ditemukan penuh bercak darah oleh salah satu ajudannya, Kapten Mursyid, pada 26 November 1946 sekitar pukul 01.00 dini hari. “Tapi jasadnya tak ditemukan sampai saat ini, juga jasad para pengawalnya.

Bertingkah unik

Sejak kejadian itu, Kapten Lukas Sutaryo yang menjadi Komandan Kompi Karawang-Bekasi menghimpun kekuatan para laskar pejuang. Pada awal 1947, Lukas Sutaryo mengendarai sendiri lokomotif kereta api dari arah Cipinang di Jembatan Bojong, perbatasan Karawang-Bekasi. Lokomotif itu ditabrakkannya dengan kereta api penuh senjata dan amunisi milik Belanda yang datang dari arah berlawanan. “Dari situlah awalnya BKR mendapatkan pasokan senjata dan amunisi.

Kapten Lukas Sutaryo juga kerap mengenakan baju seragam tentara Belanda yang baru saja dibunuhnya. Dengan mengenakan seragam itu, dia menembaki tentara Belanda yang lain. Karena kegigihannya itu, tentara Belanda menjulukinya “Begundal Karawang”.

Karena ulahnya itu, Kapten Lukas juga sempat ditembak dari jarak kira-kira 25 meter oleh Letnan Sarif, anak buahnya. Sarif awalnya tidak menyadari bahwa sosok yang ditembaknya itu komandannya sendiri. Untunglah tembakan itu tak mengenai sasaran.

Suatu saat seusai melawan tentara Belanda di wilayah Pabuaran, Pamanukan, Subang, hingga ke Cikampek, Kapten Lukas meloloskan diri dengan jalan kaki menuju Rawagede. “Dia masuk Rawagede hari Senin, jam 07.00 pagi, tanggal 8 Desember 1947.

Keberadaan Kapten Lukas di Rawagede akhirnya tercium oleh tentara Belanda. Dia kemudian menghimpun tentara BKR di Rawagede. Dia berembuk dengan para laskar hingga siang untuk merencanakan penyerangan ke wilayah Cililitan, Jakarta.

Sekitar pukul 15.00, Kapten Lukas beserta pasukannya sudah keluar dari Rawagede dan berangkat dengan berjalan kaki. Sekitar pukul 16.00, turun perintah pimpinan pasukan Belanda bahwa Rawagede harus dibumihanguskan. Kira-kira tengah malam, tentara Belanda sudah tiba di Stasiun Pataruman, Desa Kalangsari, yang bersebelahan dengan Kampung Rawagede. Selang sekitar setengah jam, sebanyak 300 tentara Belanda yang dipimpin Mayor Alphons Wijnen mulai memasuki Kampung Rawagede.

Mereka datang ke sini untuk mencari Kapten Lukas Sutaryo. Meskipun tahu Kapten Lukas sudah meninggalkan Rawagede sejak sore, warga tetap memilih bungkam. Inilah yang menjadi salah satu penyebab pembantaian.

semua laki-laki di atas usia 14 tahun dikumpulkan. Tanpa ampun, tentara Belanda menembakinya. Hari itu, Selasa, 9 Desember 1947, sebanyak 431 pria Kampung Rawagede tewas di ujung peluru. Penembakan oleh tentara Belanda berlangsung sejak pukul 04.00 hingga pukul 16.00.

Kapten Lukas sendiri tidak mengetahui terjadi pembantaian di Rawagede. Kapten Lukas, berkali-kali memohon maaf kepada warga karena kedatangannya di Rawagede telah memicu terjadinya pembantaian itu. Tapi warga tidak menaruh dendam. Beliau datang saat monumen pembantaian Rawagede diresmikan tahun 1995 dan meninggal 8 Januari 1997 dengan pangkat Mayor Jenderal.

(sumber: kolektorsejarah.wordpress.com)

Perang Terlama di Indonesia Yang Luput Dari Sejarah

Sebuah pertempuran besar luput dari catatan sejarah nasional.  Pertempuran tersebut terjadi di desa Kedongdong, Kecamatan Susukan, Cirebon. Peperangan tersebut terjadi selama 20 tahun (1753-1773), atau tujuh belas tahun sebelum pecahnya perang Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan Perang Jawa.

Diawali dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menetapkan pajak dengan nilai tinggi kepada rakyat, dinilai sebagai kebijakan yang sangat mencekik, karena saat itu rakyat berada pada kondisi yang miskin dan serba kesulitan.

Kebijakan ini mendapatkan tentangan yang sangat kuat dari rakyat, khususnya kaum santri. Saat itu mulailah terjadi perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Pergolakan melawan belanda bertambah hebat, Setelah Pangeran Suryanegara, Putra Mahkota Sultan Kanoman IV menolak tunduk terhadap perintah kolonial Belanda.

Ia memutuskan untuk keluar dari keraton dan bergabung bersama rakyat untuk melakukan perlawanan. Di bawah pimpinan sang pangeran, semangat rakyat semakin membara sehingga pemberontakan sengit terjadi di mana-mana.

Pasukan Belanda pun semakin terdesak, mereka mengalami kekalahan perang yang sangat besar, bukan saja kehilangan ribuan nyawa prajuritnya, tapi juga kerugian sebesar 150.000 Gulden untuk mendanai perang tersebut.

Dalam keadaan putus asa menghadapi perlawanan rakyat di bawah pimpinan Pangeran Suryanegara, Belanda pun meminta tambahan pasukan.

Bahkan Belanda pun meminta bantuan dari pasukan Portugis yang berada di Malaka, untuk membantu mereka meredam perlawanan rakyat Cirebon.

Kedatangan enam kapal perang yang mengangkut bala bantuan pasukan Belanda, yang didukung oleh kekuatan tentara portugis di Pelabuhan Muara Jati, tidak membuat ciut perlawanan rakyat. Justru sebaliknya semangat perlawanan mereka semakin menjadi.

Pertempuran besar-besaran terjadi di Desa Kedongdong Kecamatan Susukan. Dalam pertempuran tersebut ribuan nyawa melayang, baik di pihak rakyat maupun Belanda.

Setelah menjalani pertempuran selama dua puluh tahun (1753-1773), akhirnya Belanda sadar bahwa mereka tidak bisa menghadapi perlawanan rakyat secara frontal.

Merekapun mencari cara untuk melumpuhkan semangat perlawanan rakyat. Salah satu caranya adalah menangkap Pangeran Kanoman, karena dibawah kepemimpinan sang pangeran semangat perlawanan rakyat semakin berkobar.

Akhirnya dengan segala tipu dayanya yang licik, Belanda dapat menangkap Pangeran Kanoman tersebut. Belanda pun menahannya di Batavia, kemudian mengasingkannya di Benteng Victoria Ambon.

Bukan itu saja, Belanda juga mencabut gelar dan hak kebangsawanan Pangeran Kanoman.

Setelah ditangkapnya sang pangeran, perlawanan rakyat semakin melemah. Sedikit demi sedikit pasukan Belanda berhasil menguasai pertempuran.

Walaupun luput dari catatan sejarah nasional, Perang Kedongdongternyata memiliki arti tersendiri bagi Belanda.

Pertempuran yang memakan kerugian besar bagi Belanda, baik harta maupun nyawa itu, telah ditulis dalam sebuah kisah naratif oleh seorang prajurit Belanda bernama Van Der Kamp. Tulisan asli Van Der Kamp saat ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Belanda.

Perlawanan yang diberikan oleh Pangeran Suryanegara beserta rakyat Cirebon dalam Perang Kedongdong, dapat kita setarakan dengan sengitnya perlawanan yang di berikan oleh Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol maupun Cut Nyak Dien.

Karena itu sudah sepantasnya pertempuran tersebut di catat dalam sejarah sebagai pertempuran yang bersifat nasional bukan hanya sekedar pertempuran masyarakat lokal.

(sumber: indocropcircles.wordpress.com)

Sejarah Gunung Salak Bogor

Gunung Salak Bogor memang tidak setinggi Gunung Gede, tetangganya. Namun tingkat kesulitan yang dimiliki Gunung Salak begitu angker untuk didaki. Termasuk keberadaan Kawah Ratu yang ada di wilayahnya. Gunung Salak Bogor dapat didaki dari beberapa jalur, yakni jalur Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Wana Wisata Curug Pilung, Cimelati, Pasir Rengit dan Ciawi. Belum lagi jalur-jalur tidak resmi yang dibuka para pendaki ataupun masyarakat sekitar.

Banyaknya jalur menuju puncak Gunung Salak dan saling bersimpangan tentu membingungkan para pendaki. Banyak diantaranya yang kemudian tersasar dan menghilang. Banyaknya jalur pendakian banyak pula mitos atau kisah yang menyelimuti Gunung Salak. Selain kawasan ini dianggap suci bagi kalangan masyarakat Sunda wiwitan karena dianggap sebagai tempat terakhir Prabu Siliwangi.

Lokasi ini ternyata juga disebut banyak menyimpan harta karun peninggalan Belanda. Harta itu berupa emas murni yang dimasukan di dalam peti. Dan peti-peti itu kemudian dikubur di empat titik terpisah di area Gunung Salak Bogor.

Harta tersebut sengaja di kubur VOC, karena takut diambil tentara Jepang yang masuk ke Indonesia 1942. “Mereka (VOC) takut emas-emas yang mereka kumpulkan direbut Jepang yang waktu itu berusaha mengusir Belanda dari Indonesia,” ujar tokoh masyarakat Cidahu, Sukabumi.

Setelah sukses menguburnya, mereka kemudian membuat peta penunjuk arah yang disertai tanda-tanda fisik lokasi. Waktu itu VOC berharap ketika mereka datang lagi ke Indonesia harta yang disimpan bisa diambil kembali.

Tapi kenyataanya setelah Jepang keluar, Indonesia kemudian merdeka tahun 1945. Akhirnya serdadu Belanda dan VOC tidak bisa masuk lagi ke Indonesia. Tentu saja harta-harta yang dikubur itu tidak bisa diambil kembali.

Kabar tentang adanya harta timbunan itu di Gunung Salak sempat beredar tahun 1953. Waktu itu, sejumlah warga Cidahu mendengar kalau harta karun itu di kubur di wilayah kaki Gunung Salak tersebut. Info yang mereka terima tanda fisik tempat penyimpanan harta itu adalah tembok yang tebalnya 120 centimeter persegi.

(Sumber: www.bogorupdates.com)

Lintasan Sejarah Kota Negara

Berdasarkan bukti-bukti arkeologis dapat di interprestasikan bahwa munculnya komunitas di Jembrana sejak 6000 tahun yang lalu. Dari perspektif semiotik, asal-usul nama tempat atau kawasan mengacu nama-nama fauna dan flora. Munculnya nama Jembrana berasal dari kawasan hutan belantara (Jimbar-Wana) yang dihuni raja ular (Naga-Raja). Sifat-sifat mitologis dari penyebutan nama-nama tempat telah mentradisi melalui cerita turun-temurun di kalangan penduduk. Berdasarkan cerita rakyat dan tradisi lisan (folklore) yang muncul telah memberi inspirasi di kalangan pembangun lembaga kekuasaan tradisional (raja dan kerajaan)

Raja dan pengikutnya yaitu rakyat yang berasal dari etnik Bali Hindu maupun dari etnik non Bali yang beragama Islam telah membangun kraton sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Gede Jembrana pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa Brangbang). Raja I yang memerintah di kraton (Puri) Gede Agung Jembrana adalah I Gusti Ngurah Jembrana. Selain kraton, diberikan pula rakyat pengikut (wadwa),busana kerajaan yang dilengkapi barang-barang pusaka berupa tombak dan tulup. Demikian pula keris pusaka yang diberi nama "Ki Tatas" untuk memperbesar kewibawaan kerajaan. Tercatat bahwa ada tiga orang raja yang berkuasa di pusat pemerintahan yaitu di Kraton (Puri) Agung Jembrana.

Sejak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Raja Jembrana I Gusti Gede Seloka, Kraton (Puri) baru sebagai pusat pemerintahan dibangun. Kraton (Puri) yang dibangun itu diberi nama Puri Agung Negeri pada awal abad XIX. Kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Agung Negara. Patut diketahui bahwa raja-raja yang memerintah di Kerajaan Jembrana berikutnya pun memusatkan birokrasi pemerintahannya di Kraton (Puri) Agung Negara. Patut dicatat pula bahwa ada dua periode birokrasi pemerintahan yang berpusat di Kraton (Puri) Agung Negara.

Periode pertama ditandai oleh birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional yang berlangsung sampai tahun 1855. Telah tercatat pada lembaran dokumen arsip pemerintahan Gubernemen bahwa kerajaan Jembrana yang otonom diduduki oleh Raja Jembrana V (Sri Padoeka Ratoe) I Goesti Poetoe Ngoerah Djembrana (1839 - 1855). Ketika berlangsung pemerintahannya lah telah ditanda tangani piagam perjanjian persahabatan bilateral anatara pihak pemerintah kerajaan dengan pihak pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Gubernemen) pada tanggal 30 Juni 1849.

Periode kedua selanjutnya digantikan oleh birokrasi modern, melalui tata pemerintahan daerah (Regentschap) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Keresidenan Banyuwangi. Pemerintahan daerah Regentschap yang dikepalai oleh seorang kepala pribumi (Regent) sebagai pejabat yang dimasukkan dalam struktur birokrasi Kolonial Modern Gubernemen yang berpusat di Batavia. Status pemerintahan daerah (Regentschap) berlangsung selama 26 tahun (1856 - 1882).

Pada masa Kerajaan Jembrana VI I Gusti Ngurah Made Pasekan (1855 - 1866) mengalami dua peralihan status yaitu 1855 - 1862 sebagai Raja Jembrana dan 1862 - 1866 sebagai status Regent (Bupati) kedudukan kerajaan berada di Puri Pacekan Jembrana.

Ketika reorganisasi pemerintahan di daerah diberlakukan berdasarkan Staatblad Nomor 123 tahun 1882, maka untuk wilayah administratif Bali dan Lombok diberi status wilayah administratif Keresidenan tersendiri. Wilayah Keresidenan Bali dan Lombok dibagi lagi menjadi dua daerah (Afdelingen) yaitu Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana berdasarkan Staatblad Nomor 124 tahun 1882 dengan satu ibukota yaitu Singaraja. Selanjutnya daerah Afdeling Jembrana terbagi atas distrik-distrik yang pada waktu itu terdiri dari tiga distrik yaitu Distrik Negara, Distrik Jembrana, dan Distrik Mendoyo. Masing-masing distrik dikepalai oleh seorang Punggawa. Selain distrik juga diberlakukan jabatan Perbekel, khusus yang mengepalai komunitas Islam dan komunitas Timur Asing sebagai kondisi daerah yang unik dari sudut interaksi dan integrasi antar etnik dan antar umat beragama.

Sejak reorganisasi tahun 1882 telah ditetapkan dan disyahkan nama satu ibukota untuk Keresidenan Bali dan Lombok yaitu Singaraja, yang akan membawahi daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Akan tetapi, pada proses waktu selanjutnya memperhatikan munculnya aspirasi masyarakat di dua daerah afdeling (Buleleng dan Jembrana), maka pihak Gubernemen menanggapi positif.

Respon positif pihak Gubernemen di Batavia dapat dibuktikan dengan diterbitkannya sebuah Lembaran Negara (Staatsblad) tersendiri untuk melakukan pembenahan (Reorganisasi) tata pemerintahan daerah di daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Pihak Gubernemen dan segenap jajaran bawahan di Departemen Dalam Negeri (Binnenlandsch Bestuur) sangat memperhatikan dan mendukung sepenuhnya aspirasi masyarakat untuk menetapkan nama-nama ibukota Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Pihak Gubernemen dalam pertimbangannya ingin mengakhiri kebiasaan yang menyebut nama Ibukota Afdeling Buleleng dan Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok dengan nama lebih dari satu. Semula (Tahun 1882-1895) hanya diberlakukan satu nama Ibukota yaitu Singaraja untuk wilayah Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak disetujui dan untuk kemudian, ditetapkanlah nama-nama Ibukota daerah tersendiri terhadap Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok. Berdasarkan Staatsblad Van Nederlandsch - Indie Nomor 175 Tahun 1895, sampai seterusnya ditetapkanlah Singaraja dan Negara sebagai ibukota dari masing-masing Afdeling. Dengan demikian, sejak 15 Agustus 1895 berakhirlah nama satu ibu kota: Singaraja sebagai ibukota Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak itu pula dimulailah nama-nama Ibukota: Singaraja untuk Keresidenan Bali dan Lombok dan Daerah bagiannya di Afdeling Buleleng, serta Negara untuk Daerah Bagian Afdeling Jembrana.

Munculnya nama-nama Jembrana dan Negara hingga sekarang, memiliki arti tersendiri dari perspektif historis. Rupanya nama-nama yang diwarisi itu telah dipahatkan pada lembaran sejarah di Daerah Jembrana sejak digunakan sebagai nama Kraton (Puri) yaitu Puri Gede / Agung Jembrana dan Puri Agung Negeri Negara. Oleh Karena Kraton atau Puri adalah pusat birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional, maka dapat dikatakan bahwa Jembrana dan Negara merupakan Kraton-kraton (Puri) yang dibangun pada permulaan abad XVIII dan permulaan abad XIX adalah tipe kota-kota kerajaan yang bercorak Hinduistik. Jembrana sebagai sebuah kerajaan yang ikut mengisi lembaran sejarah delapan kerajaan (asta negara) di Bali.

Sejak 1 Juli 1938, Daerah (Afdeling, regentschap) Jembrana dan juga daerah-daerah afdeling (Onder-afdeling, regentschap) lainnya di Bali ditetapkan sebagai daerah-daerah swapraja (Zelfbestuurlandschapen) yang masing-masing dikepalai oleh Zelfbestuurder (Raja). Raja di Swapraja Jembrana (Anak Agoeng Bagoes Negara) dan Raja-raja di swapraja lainnya di seluruh Bali terlebih dahulu telah menyatakan kesetiaannya terhadap pemerintah Gubernemen.

Anak Agung Bagoes Negara memegang tampuk pemerintahan di swapraja Jembrana secara terus-menerus selama 29 tahun meskipun terjadi perubahan tatanegara dalam sistem pemerintahan. Kepemimpinannya di Jembrana berlangasung paling lama dibandingkan dengan kepemimpinan yang dipegang oleh pejabat-pejabat pelanjutnya.Selama kepemimpinannya pula, dua nama yaitu Jembrana dengan ibukotanya Negara senantiasa terpateri dalam lembaran sejarah pemerintah di Jembrana, baik dalan periode Pendudukan Jepang (Tahun 1943-1945), peiode Republik Indonesia yang hanya beberapa bulan (Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Indonesia Timur (Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (Tahun 1950-1958).

Jabatan Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Jembrana untuk pertama kalinya dijabat oleh Ida Bagus Gede Dosther dari tahun 1959 sampai tahun 1967. Pada periode selanjutnya jabatan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jembrana dijabat oleh Bupati Kapten R. Syafroni (Tahun 1967-1969); Pjs Bupati Drs. Putu Suasnawa (11 Maret - 30 Juni 1969); Bupati I Ketut Sirya (30 Juli 1969-31 Juli 1974); Pjs Bupati Drs. I Nyoman Tastra (31 Juli 1974 - 28 Juli 1975); Bupati Letkol. Liek Rochadi (28 Juli 1975 - 26 Agustus 1980); Bupati Drs. Ida Bagus Ardana (26 Agustus 1980 - 27 Agustus 1990); Bupati Ida Bagus Indugosa,S.H Selama dua kali masa jabatan (27 Agustus 1990 - 27 Agustus 1995 dan dari 27 Agustus 1995 - 27 Agustus 2000); Plt Bupati I Ketut Widjana, S.H (28 Agustus 2000 - 15 Nopember 2000), Prof.Dr.drg. I Gede Winasa menjabat sebagai Bupati Jembrana selama dua periode (15 Nopember 2000 - 10 Oktober 2010) dan I Putu Artha SE, MM. sejak 16 Februari 2011 sampai saat ini.

Dapat dikatakan bahwa, sejak gelar "Bupati" yang mengepalai pemerintahan di Daerah Tingkat II Jembrana untuk pertama kali diberlakukan pada tahun 1959 sampai saat ini, nama "Negara" sebagai ibukota Daerah Kabupaten Jembrana tetap dilestarikan.

(sumber: jembranakab.go.id)

Safiatuddin Menembus Batas


Oleh: @KibotInUSA


 


"The dogma of woman’s complete historical subjection to men must be rated as one of the most fantastic myths ever created by the human mind.”


Mary Ritter Beard (1876-1958)
Sejarawan, Aktifis Hak-hak Perempuan



Tak banyak yang mengetahui keberadaannya dalam sejarah. Dia adalah "sultanah" pertama atau panggilan bagi seorang ratu dalam kerajaan Islam Aceh Darusalam saat itu.

Sejarah perempuan adalah sejarah yang masih penuh tanda-tanya. Seringkali terjadi kesalahpahaman dalam deskripsi sejarah tentang perempuan. Bahkan, seringkali tak pernah tercatat dalam dokumen apapun. Perannya seringkali di anggap melanggar 'kodrat'. Banyak pencapaian perempuan yang tertutupi oleh pencapaian tokoh lain yang notabenenya laki-laki, atau mungkin sengaja ditutupi orang-orang yang menyepelekan mereka karana kelaminnya perempuan.

Ini mungkin juga yang dialami oleh Sultanah Tajul Alam Safiatuddin atau yang benama asli Putri Sri Alam. Namanya mungkin tertutupi oleh kemegahan nama ayahandanya, Sultan Iskandar Muda. Padahal, untuk seorang pemimpin perempuan yang berada di kerajaan Islam terkemuka saat itu, Sultanah behasil memimpin Aceh Darusalam mencapai lebih dari 30 tahun, sekitar tahun 1644-1675. Sungguh pencapaian yang sulit ditandingi oleh tokoh-tokoh lain. Bahkan, sang ratu berhasil membawa Aceh menjadi kerajaan yang sangat gemilang dan bisa disamakan pencapaiannya dengan ayahnya, Sultan Iskandar Muda.

Seperti kebanyakan pemimpin perempuan yang hadir dalam masa di mana budaya patriarki masih menancap dalam, naiknya Sultanah sangatlah kontroverisal di kalangan ulama di Aceh saat itu. Berawal dari kematian pelanjut tahta yang adalah suami dari Sultanah sendiri, yaitu Sultan Iskandar Tsani. Meninggalnya sultan pengganti secara tiba-tiba, kemudian menciptakan konflik tentang siapa yang harus melanjutkan tahta. Ini dikarenakan Sultan Iskandar Muda tidak memiliki keturunan laki-laki. Banyak ulama Aceh yang beraliran wujudiah menentang habis-habisan naiknya Safiatuddin sebagai sultanah. Tapi, dalam perdebatan yang panjang, datanglah seorang ulama besar  bernama Nurudin Ar-Raniri yang juga adalah penasihat dari Sultan Iskandar Tsani. Beliau menengahi dan mementahkan semua argumen menyangkut penentangan naiknya Sultanah Safiatuddin sebagai Ratu Aceh.

Masa pemerintahan Sultanah yang mencapai lebih dari 30 tahun itu berjalan dengan sangat gemilang. Banyak kemajuan yang berhasil beliau raih. Kehidupan dan kemakmuran dirasakan segenap masayarakat Aceh Darussalam saat itu. Perkembangan sastra dan ilmu pengetahuanpun sangatlah pesat.

Namun, banyak tantangan yang Sultanah dapatkan sepanjang pemerintahannya, baik dari dalam atau luar negeri. Terutama dari Portugis yang kala itu sedang menguasai Semenanjung Malaka. Banyak juga lahir pujangga dan ulama Islam yang besar di masa pemerintahannya.

Tak banyak dokumen yang secara rinci membahas tentang masa pemerintahannya. Sang Sultanah hanya dikenal sebagai pemimpin yang sangat cerdas dan cakap dalam mengurusi masalah negara.

Ada yang unik pada akhir masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin. Sang Sultanah mempersiapkan sebuah gebrakan baru dalam pemerintahan kerjaan Islam. Karena tidak memiliki keturunan, Sang Sultanah mempersiapkan 3 orang perempuan yang bukan dari keturunannya, namun dari keturunan bangsawan-bangsawan di Aceh, untuk meneruskan tahta. Perempuan-perempuan tersebut antara lain adalah Sultanah Nurul Alam Nkiyahtudin, Sultanah Inyatsyah Zakiatudin dan Sultanah Kemalat Syah. Maka, akhirnya, selama abad ke 16, Kerajaan Islam Aceh Darussalam diperintah oleh perempuan-perempuan yang luar biasa ini.

Ide cemerlang Sultanah untuk mengangkat perempuan-perempuan ini adalah sebuah kemajuan yang luar biasa pada zamannya. Walau pengganti-penggantinya tidak berhasil melampaui kepemimpinan Sultanah, namun ini bisa menjadi gambaran bahwa betapa perempuan menjadi pemimpin bukanlah hal aneh dan sangat mungkin. Kelebihan perempuan yang terletak pada ketegasan sekaligus kelembutannya adalah karakter pemimpin yang sulit ditandingi.

Keberhasilan perempuan di banyak era sejarah sangatlah patut untuk diapresiasi. Begitu banyak perempuan hebat di masa lalu, namun perannya seringkali 'disunat'. Generasi muda seringkali mendapat penggambaran yang salah tentang perempuan dalam sejarah. Perempuan yang memiliki ambisi besar dianggap tidak bermoral, dan perempuan yang begerak untuk kaumnya dianggap tidak berahlak. Contoh terbesar yang dapat kita lihat dalam sejarah kelam kelompok Gerwani (Gerakan Perempuan Indonesia). Karena kekuatan politiknya yang sangat besar, mereka difitnah, lalu disiksa, dan terlebih lagi digelapkan sejarahnya hingga dianggap sebagai pemberontak tak bermoral.

Pola pikir ini yang harus diubah. Karena kita tentu tak ingin anak-cucu kita mendapatkan pemahaman yang salah tentang sejarah. Tentu kita ingin anak-anak perempuan kita dapat mencontoh kegigihan Cut Nyak Dien dan kecakapan seorang Sultanah Safiatuddin Syah sebagai pemimpin. Hanya sejarah yang dapat membuat kita memahami dan mempelajari semua. Karena kenyataanya, apa yang terjadi di masa ini adalah hanya pengulangan dari masa lalu. Semoga ke depannya, sejarah Sultanah Safiatuddin yang dirasa penulis sangat terbatas, dapat digali lebih dalam agar hal-hal baik di dalamnya tentu dapat menjadi pelajaran yang baik juga bagi bangsa ini di masa depan.

 

Surat Cinta Soekarno Berbahasa Jawa

Sekian banyak tulisan tangan Sukarno, berikut satu surat yang ia tulis 31 Agustus 1963, ditujukan kepada Hariyatie, salah satu istri yang dinikahinya 21 Mei 1963. Waktu itu, Hariyatie masih tinggal di rumah Jl Madiun, Menteng – Jakarta Pusat. Itu artinya, surat itu ditulis dalam suasana “bulan madu”, alias “penganten anyar”. Wajarlah kalau Bung Karno selalu terkenang-kenang kepada sosok wanita penari berparas ayu itu.

Surat itu terdiri atas dua lembar. Pada sisi kertas ditulis miring, Bung Karno menulis “Bali saka hotel, ora bisa turu, njur nulis layang iki” (Pulang dari hotel, tidak bisa tidur, lantas menulis surat ini). Memang, surat kepada Harijatie banyak dituang dalam bahasa Jawa. Berikut kutipan surat tersebut:

Yatie adikku wong ayu,

Iki lho arloji sing berkarat kae. Kulinakna nganggo, mengko sawise sesasi rak weruh endi sing kok pilih: sing ireng, apa sing dek mau kae, apa karo-karone? Dus: mengko sesasi engkas matura aku (Dadi: senajan karo-karone kok senengi, aku ya seneng wae).

Masa ora aku seneng! Lha wong sing mundut wanodya pelenging atiku kok! Aja maneh sekadar arloji, lha mbok apa-apa wae ya bakal tak wenehke.

Tie, layang-layangku ki simpenen ya! Karben dadi gambaran cintaku marang kowe kang bisa diwaca-waca maneh (kita baca bersama-sama) ing tembe jen aku wus arep pindah-omah sacedake telaga biru sing tak ceritake dek anu kae. Kae lho, telaga biru ing nduwur, sak nduwure angkasa. Coba tutupen mripatmu saiki, telaga kuwi rak katon ing tjipta! Yen ing pinggir telaga mau katon ana wong lanang ngagem jubah putih (dudu mori lho, nanging kain kang sinulam soroting surya), ya kuwi aku, — aku, ngenteni kowe. Sebab saka pangiraku, aku sing bakal ndisiki tindak menyang kono, — aku, ndisiki kowe!

Lha kae, kembang semboja ing saknduwure pasareanku kae, — petiken kembang iku, ambunen, gandane rak gandaku. Dudu ganda kembang, nanging sawijining ganda kang ginawe saka rasa-cintaku. Sebab, oyote kemboja mau mlebu ing dadaku ing kuburan.

(Masmu, Soekarno)

Jika Anda mengerti bahasa Jawa, tentu memahami isi surat Bung Karno ini. Pada bagian akhir begitu dalam maknanya. Dan bagi Anda yang tak mengerti bahasa jawa, berikut terjemahan bebasnya:

Yatie, adikku yang ayu,

Ini lho, arloji bertahta emas itu. Biasakan memakai, nanti setelah sebulan kamu akan tahu mana yang hendak dipilih, yang hitam atau yang satunya, atau keduanya? Jadi, nanti sebulan lagi, bilanglah (walaupun suka keduanya, aku senang juga).

Masakan aku tidak senang, lha yang meminta saja wanita jantung hatiku! Jangankan sekadar arloji, minta apa pun akan aku beri.

Tie, surat-suratku ini tolong disimpan ya! Supaya menjadi gambaran cintaku kepadamu, yang bisa dibaca-baca lagi (kita baca bersama-sama) pada suatu saat nanti, kala aku mau pindah-rumah di dekat telaga biru yang saya ceritakan ketika itu. Itu lho, telaga di atas, di atasnya angkasa. Coba kau pejamkan matamu sekarang, maka kau akan bisa membayangkan telaga itu! Kalau di tepian telaga tadi tampak lelaki berjubah putih (bukan kain kafan lho… tetapi kain yang bersulamkan pancaran sinar matahari), ya itu aku, –aku, menunggumu. Sebab dari perkiraanku, aku yang bakal mendahului pergi ke sana, aku mendahuluimu!

Lha itu, kembang kamboja di atas nisanku, petiklah kembang itu, ciumilah, maka kamu akan rasakan aroma tubuhku. Bukan aroma bunga, tetapi sebuah aroma yang tercipta dari rasa-cintaku. Sebab, akar kamboja itu menusuk menembus dadaku, di dalam kuburan sana.

(Masmu, Soekarno)

Demi dan atas nama surat itu, Hariyatie pun rajin berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Sayang, di atas pusara Bung Karno, tak tertanam pohon kamboja. Meski begitu, Hariyatie tentu bisa merasakan, aroma Bung Karno di sekitar pusara. Sebab, jazad Bung Karno begitu dicintai oleh tanah yang memeluknya dengan hangat.



(sumber: rosodaras.wordpress.com)

Kisah Cinta Pak Harto Dan Ibu Tien

Kisah Cinta Pak Harto dan Bu Tien telah teruji waktu. Cinta mereka telah melewati tiga zaman, zaman perang kemerdekaan Republik Indonesia, zaman Orde Lama dan Orde Baru. Selama hampir 49 tahun mereka tak terpisahkan, dan akhirnya maut yang bisa memisahkan.

Mereka pertama kali bertemu ketika masih kanak-kanak, kemudian hari saat telah dewasa mereka dipertemukan lagi dalam sebuah perjodohan. Tidak ada yang menyangka seorang Soeharto yang anak seorang petani bisa bersanding dengan Siti Hartinah yang anak bangsawan.

Memang mereka dipersatukan dalam sebuah pernikahan dengan cara dijodohkan. Tetapi mereka berhasil menumbuhkan cinta dan memupuk cinta mereka selama hampir setengah abad. Dengan falsafah cinta mereka yang berlatar belakang budaya Jawa berhasil mempertahankan perkawinan sampai akhir hayat.

Cinta mereka dikaruniai enam orang anak, tiga perempuan dan tiga laki-laki, yakni Siti Hardijanti Indra Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmojo, Siti Hediati Harijadi, Hutomo Mandala Putra, dan yang terakhir Siti Hutami Endang Adiningsih.

Bu Tien adalah istri seorang prajurit yang pernah merasakan masa-masa genting meletusnya Gerakan 30 September 1965. Dimana beliau tampil sebagai pendorong dan pendamping suami yang paling   kokoh, memperhatikan langkah-langkah dan tindakan yang akan diambil suaminya dalam mencermati keadaan yang bergerak cepat. Untuk membubarkan organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI) lalu Era baru kehidupan berbangsa pun di mulai.

Sebagai suami istri yang sama-sama berasal dari Jawa dan kental pendidikan budaya Jawa, mereka sangat memegang teguh falsafah Jawa dalam menjalani kehidupan keluarga, menganut setia tradisi leluhurnya.

Inilah falsafah cinta Pak Harto dan Bu Tien yang membuat mereka mampu menjaga cinta mereka sampai akhir hayat. Seperti di katakan Pak Harto "Perkawinan kami tidak di dahului dengan cinta-cintaan seperti yang dialami oleh anak muda di tahun delapan puluhan. Kami berpegang pada pepatah "witing tresna jalaran saka kulina", datangnya cinta karena bergaul dari dekat.

Karena yakin bahwa cinta itu datang karena terbiasa bersama, mereka selalu menyempatkan diri merayakan setiap ulang tahun kelahiran dan ulang tahun pernikahan mereka.

Dalam budaya Jawa Istri disebut estri, yang harus mampu mendorong suami membantu pertimbangan-pertimbangan terutama saat jiwa semangat sedang melemah. Keputusan suami yang dianggapnya baik apalagi untuk kepentingan bangsa dan negara didukung sepenuhnya.

Pak Harto dan Bu Tien selalu berprinsip "aja dumeh" yang artinya jangan mentang-mentang selalu ditanamkan Pak Harto. Beliau pernah berkata, "Saya di rumah di antara istri dan anak-anak merasa sebagai orang biasa, hanya secara kebetulan diberi kepercayaan rakyat untuk memimpin negara ini sebagai presiden, Kebetulan saya dipilih enam kali, lima tahun, lima tahun setelah itu berhenti" ujarnya.

Pak Harto juga selalu mengingatkan keluarga dan anak-anaknya "Kamu jangan selalu menempatkan diri seolah-olah keluarga atau anak Presiden. Jabatan Presiden hanya berlaku lima tahun. Kalau sudah lima tahun, kamu itu hanya anaknya Soeharto dan Ibu Harto, bukan anak Presiden lagi."

Selain itu Pak Harto juga mengingatkan dengan falsafah "mikul dhuwur mendhem jero" yang artinya menjunjung tinggi-tinggi, membenamkan dalam-dalam. Mikul dhuwur arti yang lebih dalam menghormati orang tua dan menjunjung tinggi nama baik orang tua. Mendhem jero yang artinya segala kekurangan orang tua tidak perlu ditonjolkan apalagi ditiru kekurangan itu harus di kubur sedalam-dalamnya.

Pada Senin, 29 April 1996, air mata Pak Harto untuk Bu Tien istri tercinta, dengan kepergian Bu Tien untuk selama-lamanya dengan tiba-tiba sangat memukul dirinya. setelah bersama selama hampir setengah abad lamanya sejak menikah akhir tahun 1947. Pada 9 November 1996, 7 bulan setelah wafatnya istri yang di cintainya Pak Harto tetap menunjukkan cintanya meski maut telah memisahkan mereka berdua. Beliau menyetujui pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Bu Tien.

Sejak lengsernya Pak Harto dari kursi presiden 1998, kesehatan beliau mulai turun sering keluar masuknya rumah sakit. Pada 27 Januari 2008 merupakan tahun tutup usianya, setelah mengalami melemahnya fungsi jantung dan ginjal. Rasa cinta anak-anak, cucu-cucu hingga cicit, mereka melepas kepergian Pak Harto dalam adat Jawa, tradisi melewati bawah peti jenazah sebanyak tiga kali searah jarum jam bermakna sebagai penghormatan terhadap keluarga. Inilah akhir kisah cinta sejati Pak Harto dan Bu Tien yang seharusnya menjadi contoh teladan bagi kita semua.

(Sumber: www.pelitaonline.com)

Pahlawan Nasional Urip Sumoharjo

Tempat/Tgl. Lahir: Purworejo. 23 Februari 1893

Tempat/Tgl. Wafat: Yogyakarta, 17 November 1948

SK Presiden : Keppres No. 06/TK/Tahun 1968. Tgl 27 Maret 1968

Gelar: Pahlawan Nasional

Berkiprah didunia militer sebenarnya bukan cita-cita Urip Sumoharjo kecil. Beliau ingin menjadi pegawai pemerintahan sehingga bersekolah di OSVIA, Magelang. Namun, saat menjalani pendidikan, timbul dorongan untuk menjadi tentara. Beliau memutuskan keluar dan OSVIA kemudian masuk sekolah militer Belanda di Jakarta. Pada 1913, ia lulus dengan nilai terbaik dan menyandang status sebagai perwira teladan. Urip kemudian berdinas di KNIL (tentara Hindia Belanda) dengan pangkat letnan. Banyak putra Indonesia Iainnya yang bergabung di KNIL, termasuk A.H. Nasution,  Gatot Subroto, dan T.B. Simatupang.  Bekal pendidikan militer ini sangat bermanfaat dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Urip merupakan satu-satunya orang Indonesia yang mencapai pangkat mayor dalam KNIL.  Meski demikian,beliau dengan berani menentang diskriminasi yang dilakukan Belanda.

Pada tahun 1942, semua tentara Belanda ditawan Jepang, termasuk Urip Sumoharjo. Setelah dibebaskan, JepangMenawarkan jabatan sebagai komandan polisi, tetapi beliau menolak. Memasuki zaman kemerdekaan, Urip Sumoharjo mengusulkan agar pemerintah segera membentuk tentara. Tentara Keamanan rakyat (TKR) dibentuk pada 5 Oktober 1945. Urip kemudian mengumpulkan bekas KNIL lainnya untuk mengeluarkan pernyataan tidak terikat lagi dalam dinas KNIL. Pernyataan ini ditandatangani 13 orang .

Pada 15 Oktober 1945, Urip sumoharjo diangkat menjadi Kepala Staf Umum TKR dengan pangkat letnan jenderal. Sebagai pemimpin tertinggi TKR, beliau berupaya menyempurnakan organisasi tentara hingga kelak TKR berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada 1948, Urip Sumoharjo mengundurkan diri dari jabatan sebagai Kepala Staf Umum TKR karena tidak setuju dengan Perjanjian Renville yang dianggapnya banyak merugikan Indonesia. Namun, ia lalu diangkat sebagai penasihat militer Presiden Sukarno. Urip Sumoharjo wafat pada 17 November 1948 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

(sumber: www.pahlawanindonesia.com)

Sejarah Singkat Supriyadi

Masa penjajahan pemerintah Jepang di Indonesia jika dibandingkan dengan pemerintah kolonial Belanda memang jauh lebih singkat. Jika Belanda menduduki Indonesia kira-kira tiga setengah abad, masa kependudukan Jepang hanya berlangsung sekitar 3 tahun. Namun, penderitaan yang dialami rakyat jauh lebih berat ketika Jepang menguasai Tanah Air. Kondisi sosial ekonomi Indonesia saat itu mengalami kekacauan, bahkan di ambang kehancuran.

Di samping itu, seperti halnya Belanda yang menerapkan sistem kerja paksa yang dikenal dengan istilah Rodi, demikian pula halnya dengan Jepang. Untuk kepentingan mereka, ratusan ribu orang dijadikan romusha (pekerja paksa). Para romusha diperintahkan untuk membuat benteng, jembatan dan jalan.

Para romusha dipekerjakan tanpa memperhitungkan beban kerja. Selain itu, penderitaan para romusha ditambah lagi dengan minimnya persediaan makanan serta kelangkaan obat-obatan sehingga korban jiwa pun berjatuhan. Keprihatinan terhadap kondisi para romusha itu sangat mengusik nurani Supriyadi.

Supriyadi adalah pejuang kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923. Sesudah menamatkan ELS (setingkat Sekolah Dasar), ia melanjutkan pendidikan ke MULO (setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), kemudian memasuki Sekolah Pamongpraja di Magelang.

Ketika bala tentara Jepang tiba di Indonesia, ia belum sempat menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Pamongpraja. Ia pun berganti haluan dengan memasuki Sekolah Menengah Tinggi dan mengikuti latihan pemuda (Seimendoyo) di Tangerang.

Bersamaan dengan terjadinya perang pasifik ketika itu, maka untuk membantu Jepang melawan sekutu, pemerintahan pendudukan Jepang menyadari pentingnya peran para pemuda pribumi. Untuk tujuan itu, Jepang pun mendirikan sebuah kelompok tentara yang dinamakan PETA (Tentara Pembela Tanah Air) pada bulan Oktober 1943. Tujuannya, untuk memberikan latihan kemiliteran kepada pemuda-pemuda Indonesia dengan maksud, mereka nanti akan dipakai untuk membantu Jepang menahan serbuan Sekutu.

Walau tadinya dimaksudkan untuk membantu pasukan Jepang, namun pada kesempatan itu tokoh-tokoh pergerakan nasional juga berhasil menanamkan jiwa kebangsaan kepada pemuda-pemuda anggota PETA tersebut.

Supriyadi sendiri merupakan salah satu pemuda yang menjadi anggota PETA dan yang kemudian diangkat menjadi Shodanco di daerah Blitar. Ia ditugaskan untuk mengawasi pekerjaan para romusha. Karena pekerjaannya itu, ia sering melihat dengan jelas bagaimana kekejian dan kesewenang-wenangan yang dilakukan tentara Jepang kepada kaum sebangsanya, Indonesia.

Tidak terjaminnya makanan serta kesehatan, menambah penderitaan para romusha sehingga mengakibatkan banyak dari para pekerja paksa itu yang meninggal dunia. Melihat kenyataan memilukan tersebut, hati Supriyadi sangat tersentuh. Sejak itu, di dalam hati Supriyadi timbul niat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Dengan beberapa orang temannya, ia pun merencanakan pemberontakan melawan Jepang. Walaupun ia sadar bahwa kekuatan Jepang sangat sulit ditandingi, namun ia tetap bertekad melakukan perlawanan.

Sebelum niat itu terlaksana, dalam suatu kesempatan ketika  Bung Karno berada di Blitar untuk mengunjungi orangtuanya, Supriyadi dan sekelompok perwira lainnya sempat meminta saran  Bung Karno. Ketika itu,  Bung Karno menyarankan agar para perwira itu mempertimbangkan segala kemungkinan. Bung Karno yang menerapkan taktik kerjasama sejak awal kedatangan Jepang mengatakan, bahwa Supriyadi Cs masih terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu. Namun, dengan jiwa mudanya, Supriyadi yang menjadi pemimpin para perwira itu memiliki keyakinan kuat bahwa aksi pemberontakan mereka itu akan berhasil.

Tanggal 14 Februari 1945 dinihari, pemberontakan pun dilancarkan di Daidan Blitar. Korban jiwa dari pihak tentara Jepang pun berjatuhan. Jepang yang merasa sangat terkejut dengan aksi pemberontakan tersebut mengerahkan kekuatan yang besar untuk menumpas para pemberontak yang juga merupakan anggota-anggota pasukan Peta Blitar. Selain melakukan penangkapan, siasat membujuk beberapa tokoh pemberontak juga dilakukan.

Kurangnya pengalaman serta kekuatan yang tak seimbang, gerakan tersebut dapat diatasi oleh Jepang. Tokoh-tokoh pemberontak yang berhasil ditangkap kemudian diadili di mahkamah militer Jepang. Di antara mereka ada enam orang yang dijatuhi hukuman mati, tiga orang hukuman seumur hidup dan yang lain mendapat ganjaran hukuman bervariasi mulai dari tiga hingga lima belas tahun.

Tapi ketika hendak dieksekusi, Supriyadi sebagai pemimpin gerakan tersebut tidak termasuk dalam nama kelompok yang dieksekusi. Bahkan, pada waktu persidangan pun namanya tidak ikut disebut. Ketika pemerintah RI dengan Maklumat Pemerintah RI pada tanggal 6 Oktober 1945 mengangkat Supriyadi sebagai

Menteri Keamanan Rakyat dalam kabinet RI yang pertama, pemimpin perlawanan PETA itu juga tak muncul. Rupanya setelah berhasil ditangkap Jepang, ia langsung dibunuh. Karena itu pula, sampai saat ini tidak ada yang mengetahui di mana makam Supriyadi berada.

Atas jasa-jasanya pada negara, Supriyadi diberi gelar pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 063/TK/Tahun 1975, tanggal 9 Agustus 1975

 

(Sumber: www.tokohindonesia.com)

 

Puisi dan Kisah Cinta Gie

Ada kisah cinta yang menjadi roman indah, tetapi ada juga yang menjadi tragedi. Seperti kisah cinta antara Soe Hok Gie dan Ira. Sebuah tragedi percintaan yang bersemayam di dalam jalinan persahabatan. Bagaimana Ira yang selalu mencintai Gie dalam diam, dan Gie yang sempat terikat dengan Sinta, namun sebenarnya mencintai Ira sejak awal tapi tak pernah mengungkapkan perasaannya sampai kematian datang.

Inilah Puisi terakhir Soe Hok Gie untuk cinta sejatinya, Ira,yang ditulis di atas Gunung Semeru. Disampaikan oleh Denny, sahabat mereka setelah kematian Gie

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,

Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di wiraza,

Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku….

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi

 

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang

Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati disisi mu manisku

 

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya

Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu

Mari sini sayangngku

Kalian yang pernah mesra Yang pernah baik dan simpati padaku

Tegaklah ke langit luas Atau awan yang menang

Kita tak pernah menanamkan apa-apa

Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

Dan sebuah sajak berjudul "Sebuah Tanya" mungkin mencerminkan bagaimana kegelisahan hatinya :

Akhirnya semua akan tiba

Pada suatu hari yang biasa

Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

 

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap

Sambil membenarkan letak leher kemejaku

 

Kabut tipis pun turun pelan-pelan

Di lembah kasih, lembah Mandalawangi

 

Kau dan aku tegak berdiri

Melihat hutan-hutan yang menjadi suram

Meresapi belaian angin yang menjadi dingin

 

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu

Ketika kudekap kau

Dekaplah lebih mesra, lebih dekat

 

Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi

Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya

 

Kau dan aku berbicara

Tanpa kata, tanpa suara

Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita

Apakah kau masih akan berkata

Kudengar derap jantungmu

 

Kita begitu berbeda dalam semua

Kecuali dalam cinta

 

Hari pun menjadi malam

Kulihat semuanya menjadi suram

Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

Dalam bahasa yang kita tidak mengerti

Seperti kabut pagi itu

Manisku, aku akan jalan terus

Membawa kenang-kenangan dan harapan-harapan

Bersama hidup yang begitu biru.

 

(Diolah dari berbagai sumber)

Soekarno Siasati Belanda dengan Telur dan Al-Quran

Bung Karno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI inilah yang membuat dia mendekam di penjara Banceuy dan kemudian dipindahkan ke Sukamiskin pada tahun 1930.

Saat dipenjara, Soekarno mengandalkan hidupnya dari sang istri. Seluruh kebutuhan hidup dipasok oleh Inggit yang dibantu oleh kakak kandung Soekarno, Sukarmini atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Wardoyo.

Saat dipindahkan ke penjara Sukamiskin, pengawasan terhadap Soekarno semakin keras dan ketat. Dia dikategorikan sebagai tahanan yang berbahaya. Bahkan untuk mengisolasi Soekarno agar tidak mendapat informasi dari luar, dia digabungkan dengan para tahanan 'elite'. Kelompok tahanan ini sebagian besar terdiri dari orang Belanda yang terlibat korupsi, penyelewengan, atau penggelapan. Tentu saja, obrolan dengan mereka tidak nyambung dengan Bung Karno muda yang sedang bersemangat membahas perjuangan kemerdekaan. Paling banter yang dibicarakan adalah soal makanan, cuaca, dan hal-hal yang tidak penting.

Beberapa bulan pertama menjadi tahanan di Sukamiskin, komunikasi Bung Karno dengan rekan-rekan seperjuangannya nyaris putus sama sekali. Tapi sebenarnya, ada berbagai cara dan akal yang dilakukan Soekarno untuk tetap mendapat informasi dari luar.

Hal itu terjadi saat pihak penjara membolehkan Soekarno menerima kiriman makanan dan telur dari luar. Telur yang merupakan barang dagangan Inggit itu selalu diperiksa ketat oleh sipir sebelum diterima Bung Karno.

Seperti yang dituturkan Ibu Wardoyo yang dikutip dalam buku 'Bung Karno Masa Muda' terbitan Pustaka Antarkota tahun 1978, telur menjadi alat komunikasi untuk mengabarkan keadaan di luar penjara. Caranya, bila Inggit mengirim telur asin, artinya di luar ada kabar buruk yang menimpa rekan-rekan Bung Karno. Namun dia hanya bisa menduga-duga saja kabar buruk tersebut, karena Inggit tidak bisa menjelaskan secara detail.

Seiring berjalannya waktu, Soekarno dan Inggit kemudian menemukan cara yang lebih canggih untuk mengelabui Belanda. Medianya masih sama, telur. Namun, telur tersebut telah ditusuk-tusuk dengan jarum halus dan pesan lebih detail mengenai kabar buruk itu dapat dipahami Bung Karno. Satu tusukan di telur berarti semua kabar baik, dua tusukan artinya seorang teman ditangkap, dan tiga tusukan berarti ada penyergapan besar-besaran terhadap para aktivis pergerakan kemerdekaan.

Ada lagi cara yang lebih rumit dengan menggunakan media buku-buku agama hingga Alquran. Inggit yang mendapat jatah berkunjung dua kali sepekan diizinkan membawa buku-buku agama dan Alquran. Misalnya, Bung Karno dikirimi Alquran tanggal 24 bulan April. Maka Bung Karno harus membuka surat Alquran keempat di halaman 24. Di bawah huruf-huruf tertentu pada halaman tersebut terdapat lubang-lubang kecil seperti huruf Braille. Contohnya di bawah huruf B ada tusukan, selanjutnya di bawah huruf U, dan seterusnya, hingga membentuk rangkaian kata dan kalimat yang berisi kabar dari rekan-rekan seperjuangannya yang berada di luar penjara.

Satu lagi model komunikasi yang digunakan Bung Karno. Cara ini dipilih Ibu Wardoyo, yang selalu menemani Inggit membesuk ke penjara Sukamiskin. Dia menggunakan bahasa tubuh seperti menarik telinga, menyilangkan jari, mengedipkan mata, menggerakan satu tangan, hingga menggerakkan bagian muka. Semua kode itu sudah dipahami maknanya oleh Bung Karno.

Selama menjalani masa hukuman dari Desember 1929 hingga dibebaskan pada tanggal 31 Desember 1931, Soekarno tidak pernah dijenguk oleh kedua orangtuanya yang berada Blitar. Menurut Ibu Wardoyo, orang tua mereka Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai tidak sanggup melihat anak yang mereka banggakan itu berada di tempat hina yakni penjara dan dalam posisi yang tidak berdaya.

Apalagi, saat di Sukamiskin, menurut Ibu Wardoyo, kondisi Soekarno demikian kurus dan hitam. Namun Bung Karno beralasan, dia sengaja membuat kulitnya menjadi hitam dengan bekerja dan bergerak di bawah terik matahari untuk memanaskan tulang-tulangnya. Sebab di dalam sel tidak ada sinar matahari, lembab, gelap, dan dingin.

(sumber: www.blog-unikdanmenarik.blogspot.com)

Agama-agama Lokal Indonesia

Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama yang diakui yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, di setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli. Agama-agama asli indonesia ini telah ada sejak zaman dulu dan dianut oleh nenek moyang kita selama beratus-ratus tahun:

Sunda Wiwitan



Sunda Wiwitan adalah agama atau kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda. Agama Sunda atau agama Sunda Wiwitan ini dikembangkan oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan. Oleh pemerintah Belanda, Madrais belakangan ditangkap dan dibuang ke Ternate, dan baru kembali sekitar tahun 1920 untuk melanjutkan ajarannya.

Penganut ajaran ini dapat ditemukan di beberapa desa di provinsi Banten dan Jawa Barat, seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; dan Cigugur, Kuningan. Menurut penganutnya, Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh orang Sunda sebelum datangnya ajaran Hindu dan Islam.



Kata “Kejawen” berasal dari kata Jawa yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu segala yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan). Penamaan "kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, kejawen merupakan bagian dari agama lokal Indonesia.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang seni, budaya, tradisi, ritual, sikap serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa. Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah").

parmalin



Istilah Parmalim merujuk kepada penganut agama Malim. Agama Malim yang dalam bahasa Batak disebut Ugamo Malim adalah bentuk moderen agama asli suku Batak. Agama asli Batak tidak memiliki nama sendiri, tetapi pada penghujung abad kesembilan belas muncul sebuah gerakan anti kolonial. Pemimpin utama mereka adalah Guru Somalaing Pardede. Agama Malim pada hakikatnya merupakan agama asli Batak, namun terdapat pengaruh agama Kristen, terutama Katolik, dan juga pengaruh agama Islam.

kaharingan



Kaharingan adalah kepercayaan tradisional suku Dayak di Kalimantan Pemerintah Indonesia mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu agama yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti Tollotang (Hindu Tollotang) pada suku Bugis, dimasukkan dalam kategori agama Hindu sejak 20 April 1980.

Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh Tjilik Riwut tahun 1944, saat ia menjabat Residen Sampit yang berkedudukan di Banjarmasin. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan.

Wetu Telu



Wetu Telu adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam pada masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap. Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut.

Marapu



Marapu adalah sebuah agama atau kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini. Agama ini memiliki kepercayaanpemujaan kepada nenek moyang dan leluhur. Pemeluk agama Marapu percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal di dunia roh, yaitu di surga Marapu yang dikenal sebagai Prai Marapu.

Upacara keagamaan marapu seperti upacara kematian dan sebagainya selalu dilengkapi penyembelihan hewan seperti kerbau dan kuda sebagai korban sembelihan. Hal tersebut sudah menjadi tradisi turun-temurun yang terus dijaga di Pulau Sumba.

(sumber: www.ilhamblogindonesia.blogspot.com)

4 Situs Peninggalan Kerajaan Kediri

Candi Penataran



Candi termegah dan terluas di Jawa Timur ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar, pada ketinggian 450 meter dpl. Dari prasasti yang tersimpan di bagian candi diperkirakan candi ini dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kediri sekitar tahun 1200 Masehi dan berlanjut digunakan sampai masa pemerintahan Wikramawardhana, Raja Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1415.

Candi Gurah



Candi Gurah terletak di kecamatan di Kediri, Jawa Timur. Pada tahun 1957 pernah ditemukan sebuah candi yang jaraknya kurang lebih 2 km dari Situs Tondowongso yang dinamakan Candi Gurah namun karena kurangnya dana kemudian candi tersebut dikubur kembali.

Arca Buddha Vajrasattva



Arca Buddha Vajrasattva ini berasal dari zaman Kerajaan Kediri (abad X/XI). Dan sekarang merupakan Koleksi Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem, Jerman.

Prasasti Galunggung



Prasasti Galunggung memiliki tinggi sekitar 160 cm, lebar atas 80 cm, lebar bawah 75 cm. Prasasti ini terletak di Rejotangan, Tulungagung. Di sekeliling prasasti Galunggung banyak terdapat tulisan memakai huruf Jawa kuno. Tulisan itu berjajar rapi. Total ada 20 baris yang masih bisa dilihat mata. Sedangkan di sisi lain prasasti beberapa huruf sudah hilang lantaran rusak dimakan usia. Di bagian depan, ada sebuah lambang berbentuk lingkaran. Di tengah lingkaran tersebut ada gambar persegi panjang dengan beberapa logo. Tertulis pula angka 1123 C di salah satu sisi prasasti.

(sumber: www.ilhamblogindonesia.blogspot.com)

6 Benda dan Bangunan indah Peninggalan Kesultanan Aceh

Kesultanan aceh di ujung barat indonesia ini menjadi sangat kuat dan terkenal ketika dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda, namun hanya beberapa peningalanya saja yang dapat kita jumpai sekarang ini, seperti yang berikut ini:

Taman Sari Gunongan



Taman Sari Gunongan merupakan salah satu peninngalan Kerajaan Aceh, setelah keraton (dalam) tidak terselamatkan karena Belanda menyerbu Aceh. Gunongan dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda yamg memerintah tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Malaka. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintannya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi.

Masjid Tua Indrapuri



 

Mesjid Indrapuri adalah bangunan tua berbentuk segi empat sama sisi. Bentuknya khas, mirip candi, karena di masa silam bangunan tersebut bekas benteng sekaligus candi kerajaan hindu yang lebih dahulu berkuasa di Aceh. Diperkirakan pada tahun 1.300 Masehi, pengaruh Islam di Aceh mulai menyebar, dan perlahan penduduk sekitar sudah mengenal Islam, akhirnya bangunan yang dulunya candi berubah fungsi menjadi mesjid. Dan sejarah juga mengatakan bangunan bekas candi tersebut dirubah menjadi mesjid di masa Sultan Iskandar Muda berkuasa dari tahun 1607-1637 Masehi.

Benteng Indrapatra



Setelah Hindu, muncul kerajaan Islam yang pada masa keemasan dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Pada masa ini, benteng tetap digunakan sebagai basis pertahanan melawan Portugis. Sultan Iskandar Muda menugaskan Laksamana Malahayati seorang laksamana perempuan pertama di dunia untuk memimpin pasukan di wilayah basis pertahanan ini. Benteng ini merupakan benteng yang dibangun oleh kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh. Walaupun akhirnya Islam mendominasi di Aceh, tetapi Sultan dan Ratu yang memimpin Aceh tidak pernah menghancurkan jejak peninggalan nenek moyangnya.

Pinto Khop



Pinto Khop terletak di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh. Pinto Khop merupakan sejarah Aceh tempo dulu. Pinto Khop di bangun pada masa pemerintahan sultan iskandar muda. Pinto Khop merupakan pintu penghubung antara istana dan taman putroe phang.Pinto khop ini merupakan pintu gerbang berbentuk kubah.Pinto khop ini juga merupakan tempat beristirahat putri pahang setelah lelah berenang, letaknya tidak jauh dari gunongan.Di sanalah dayang-dayang membasuh rambut sang permaisuri,di sana juga terdapat kolam untuk sang permaisuri mandi bunga.

Meriam Kesultanan Aceh



Pada masa Sultan Selim II dari Turki Utsmani, dikirimkan beberapa teknisi dan pembuat senjata dari Turki ke Aceh. Selanjutnya Aceh kemudian menyerap kemampuan ini dan mampu memproduksi meriam sendiri dari kuningan dimana meriam ini digunakan untuk mempertahankan acwh dari penjajah.

Hikayat Prang Sabi



Hikayat Prang Sabi merupakan suatu karya sastra dalam sastra Aceh yang berbentuk hikayat yang isinya membicarakan tentang jihad. ditulis oleh para ulama yang berisi nasihat, ajakan dan seruan untuk terjun ke medan jihaad fii sabilillaah, menegakkan agama Allah dari rongrongan kafir dan meraih imbalan pahala yang besar. Bisa jadi hikayat inilah yang membangkitkan semangat juang rakyat aceh dahulu dalam mengusir penjajah.

(sumber: www.ilhamblogindonesia.blogspot.com)

(sumber foto depan: www.atjehliterature.blogspot.com)

KISAH CINTA BUNG HATTA

Kisah ini berawal dari suatu malam di tahun 1943. Pengacara Mr. Sartono mengadakan jamuan makan malam di rumahnya di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Sejumlah tokoh pergerakan hadir di sana. Acara yang dibuat untuk memberi ucapan kepada Soekarno itu juga dihadiri Mohammad Hatta dan keluarga Ny S.S.A. Rachim beserta dua anak gadisnya, Rahmi Rachim (17) dan Raharty (14). Sartono sengaja mengundang mereka untuk merayakan kepulangan Bung Karno dari Bengkulu, tempat pembuangannya. Acaranya santai. Ramah tamah mengalir dengan gembira.

Saat itu, Hatta datang sendirian. Dia memang belum berkeluarga meski sudah berusia 41 tahun. Ini berkaitan dengan nazar Hatta yang tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Hal itu mengusik perhatian Bung Karno. Sebagai seorang sahabat, ia ingin mencarikan pendamping buat Hatta. Hingga kemudian menjelang kemerdekaan, Bung Karno mendatangi rumah keluarga Ny Rachim di Bandung, Jawa Barat. Dalam kunjungan tersebut, Soekarno bertanya kepada Ny Rachim, "Gadis mana yang tercantik di Bandung?" Mendengar pertanyaan itu, Ny Rachim tampak bingung. Ia akhirnya menyebut sejumlah nama. "Ada Olek, putri Ibu Dewi Sartika. Meta, putri dokter Sam Joedo yang terkenal di Bandung, atau Mieke, kerabat dokter itu," ujar Ny Rachim, sekenanya.

"Kenapa? Ada apa Mas Karno tanya-tanya tentang gadis-gadis cantik?" Ny Rachim pun bertanya balik. Mendengar pertanyaan itu, Soekarno juga menjawab dengan sekenanya, "Ah, tidak apa-apa. Tanya-tanya kan ndak salah?" Pembicaraan pun terputus. Soekarno kembali ke Jakarta.

Tepat 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Tiga bulan setelah kemerdekaan, Bung Karno kembali datang ke kediaman Ny Rachim. Kali ini bersama sahabat karibnya, dokter Soeharto. Di rumah itu, Soekarno langsung mengutarakan niat kedatangan. "Begini, saya mau melamar," kata Bung Karno. Ny Rachim balik bertanya, "Melamar siapa?"

"Melamar Rahmi," kata Soekarno. Ny Rachim lagi-lagi kebingungan. "Untuk siapa?" kejarnya. Dengan suara yang terdengar jelas Soekarno menjawab, "Untuk teman saya, Hatta." Suasana menjadi hening. Bagi keluarga Ny Rachim, Soekarno dan Hatta memang bukan orang baru. Bahkan, seluruh anak Ny Rachim memanggil kedua tokoh ini dengan sebutan Om Karno dan Om Hatta. Meski begitu, lamaran Soekarno tetap saja mengagetkan.

Dengan nada bijak, Ny Rachim mengatakan, "Mas Karno, mengenai lamaran ini, saya harus bertanya dulu kepada anak saya, Rahmi. Menurut saya, dia sudah berusia 19 tahun, sehingga sudah saya anggap dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya." Perbedaan usia Hatta dan Rahim yang terpaut 24 tahun memang menjadi pertimbangan Ny Rachim. Saat itu Hatta sudah berusia 43 tahun.

Meski begitu, Ny Rachim tetap menemui Rahmi. Ketika masuk ke kamar tidur putrinya itu, Yuke--nama panggilan Rahmi--bertanya, "Siapa yang datang, Mam?" Pertanyaan itu langsung dijawab, "Bung Karno. Dia datang untuk melamar kamu." Rahmi sangat kaget mendengar jawaban itu. "Buat saya? Mahasiswa sinting mana yang mau melamar saya?" ujarnya. Dengan hati-hati Ny Rachim menjelaskan, "Ini bukan mahasiswa! Dia orang baik, Mohammad Hatta!"

Saat Ny Rachim berbicara dengan Yuke, adik Rahmi--Raharty--menyeletuk, "Jangan mau Yuk, orangnya sudah tua." Yuke tampak ragu-ragu. Ia takut ketika diajak ke hadapan Om Karno. Saat itu, Yuke hanya bisa bilang, "Om, saya takut." Mendengar ucapan itu, Soekarno tersenyum. "Kamu takut apa? Jangan takut, Hatta itu orang baik, dia pemimpin yang baik, dia juga sahabat saya yang baik." Penjelasan Om Karno membuat Yuke mengerti dan menerima lamaran tersebut. Selain itu, Yuke menilai Om Hatta sebagai orang pintar yang menjalankan syariat agama dengan baik.

Tepat November 1945, Rahmi menikah dengan Hatta di Mega Mendung, Puncak, Jabar, di saat revolusi fisik masih berkecamuk. Gadis keturunan Jawa-Aceh ini tak pernah menyangka garis nasib akan membawanya menjadi istri wakil presiden pertama Indonesia. Bagi Rahmi, tentu tidak mudah menjadi istri seorang Wapres dari negara yang baru merdeka dan rakyatnya masih mengangkat senjata melawan penjajah. Ketika pusat pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta, Rahmi juga ikut hijrah bersama sang suami. Mereka baru kembali ke Jakarta setelah Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan RI kepada Soekarno-Hatta.

Pasang surut kehidupan berumah tangga mereka jalani dengan penuh toleransi. Mereka tak pernah mempersoalkan perbedaan asal-usul, latar belakang keluarga, pendidikan, dan rentang usia yang cukup jauh. Hatta memang lebih banyak mengemong sang istri. "Mereka bicara banyak hal, kadang menggunakan bahasa Belanda. Topiknya luas. Mereka selalu berembug bersama untuk urusan anak-anak," kata Halida Hatta, puteri ketiga keluarga ini.

Hatta-Rahmi mengarungi pernikahan selama 35 tahun. Keduanya baru berpisah, ketika Allah SWT memanggil Hatta pada 1980. Sembilan belas tahun kemudian, Rahmi menyusul Hatta berpulang. Kedua pasangan ini kembali berdampingan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, seperti tak ingin terpisahkan.

(Sumber: www.news.liputan6.com)

(sumber foto: www.flickr.com)

Kisah Cinta Gusti Nurul Kamaril

Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani adalah putri cantik dari Mangkunegara, anak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Mangkunegoro VII. Di zamannya, ia dikenal sebagai putri tercantik. Ia suka sekali menunggang kuda, pandai main tenis dan pintar membuat sajak-sajak, baik dalam bahasa Belanda ataupun bahasa Indonesia.

Kecantikannya membuat terpukau banyak orang. Seorang Bung Karno, lelaki paling hebat di zaman Revolusi 1945 'pun, pernah melamarnya, tapi ditolak. Begitu pula Sutan Sjahrir, lelaki Indonesia paling rasional dan brillian kecerdasannya, juga pernah tersungkur jatuh rindu, tenggelam dalam bayangan cinta Gusti Nurul Kamaril. Tapi Gusti Nurul Kamaril menolak semua lelaki hebat itu. Ia malah memilih lelaki yang sederhana, seorang kolonel yang tak memiliki ambisi, seorang tentara yang tak berniat menjadi panglima. Dialah Kolonel Raden Mas Surjosularso.

Kolonel Suryo adalah jenis tentara di balik meja. Bahkan bosnya, yakni Jenderal Nasution, pernah berkomentar  tentangnya: "Dia tipikal sangat Jawa. Dia tak pernah bicara banyak. Bahkan, ketika dia hendak protes karena marah besar, dia hanya datang kepada saya dan diam lama sekali di depan saya."

Akhirnya, seorang perempuan paling cantik di masa-nya, yang ketika berlatih kuda tiap sore di halaman Mangkunegara, selalu dilihat ratusan pemuda karena ingin melihat kecantikan Gusti Nurul, justru jatuh cinta pada seorang lelaki pendiam yang teramat sederhana. Dan, setelah menikah, Gusti Nurul hidup jauh dari kemewahan. Jauh dari kemewahan bangsawan dan berjarak pada kisah romantika cinta para bangsawan. Sikap cinta sederhana Gusti Nurul ini adalah sebuah laku, bahwa cinta itu sangat indah bila dibangun dengan cara yang sederhana, dimana pondasinya adalah kepercayaan.

Seperti yang ia ungkapkan dalam puisi karangannya ini. Puisi yang ia tulis dengan air mata basah, air mata yang membasahi bantalnya saat lelaki pujaannya terpaksa ia tinggalkan kerna ibunya tak menyukainya:

Kupu tanpa sayap

Tak ada di dunia ini

Mawar tanpa duri

arang ada atau boleh dikata tidak ada

Persahabatan tanpa cacat

Juga jarang terjadi

Tetapi cinta tanpa kepercayaan

Adalah suatu bualan terbesar di dunia ini

(Gusti Nurul Kamaril, Solo)

Kepada Gusti Nurul Kamaril, kita banyak belajar bahwa cinta tanpa kepercayaan adalah sebuah lelucon tanpa kelucuan. Cinta yang percaya adalah ibu dari segala ibu keindahan manusiawi. (Sumber: www.citizenimages.kompas.com)

Keelokan Gunung Kelud



Gunung Kelud merupakan gunung api yang unik karena berbentuk strato dengan danau kawah. Secara geografis, Kelud berada pada posisi 7056’ Lintang Selatan dan 112018,5’ Bujur Timur dengan ketinggian 1.650 meter di atas dataran Kediri atau 1.731 meter di atas dari permukaan laut.

Secara administratif, lokasi Gunung Kelud sangat strategis karena berada di antara tiga kabupaten, yakni Kediri, Blitar, dan Kabupaten Malang. Adapun kota terdekat menuju ke Gunung Kelud adalah Kediri dengan jarak sekitar 40 kilometer.

Dalam catatan sejarah, gunung ini telah mengalami 30 kali letusan, eksplosif maupun efusif, mulai tahun 1000 sampai tahun 2014. Erupsi eksplosifnya mampu menghancurkan ratusan desa di sekitarnya, termasuk ribuan hektar lahan pertanian dan menewaskan ribuan warga.

Berdasarkan pengamatan letusan tiga abad berturut-turut, waktu istirahat terpanjang aktivitas dalam perut Gunung Kelud adalah 65-76 tahun, tetapi pernah pula hanya tiga tahun. Sejak letusan tahun 1901, waktu istirahat gunung itu menjadi lebih singkat, yaitu 15-31 tahun, bahkan pernah mencapai masa paling singkat, yaitu satu tahun.

Tak bisa dimungkiri bahwa Gunung Kelud telah banyak memberi manfaat bagi masyarakat. Kelud telah lama menjadi obyek studi yang sangat menarik bagi para ilmuwan gunung api, bauk di dalam negeri maupun mancanegara. Bagi warga sekitar, letusan material pijar dari perut Bumi Gunung Kelud memberikan kesuburan tanah di lerengnya sehingga cocok untuk pertanian dan perkebunan.

Di sisi lain, keindahan panorama Gunung Kelud juga menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal ataupun mancanegara. Apalagi, pembangunan infrastruktur sangat menunjang, di antaranya jalan utama menuju puncak yang sudah beraspal.



Kelebihan lainnya adalah adanya terowongan sepanjang sekitar 200 meter dengan lebar 1,5 meter yang memungkinkan pengunjung mencapai danau kawah di perut gunung.

Keunikan Kelud terasa semakin lengkap ketika setiap tanggal 1 Suro menurut penanggalan Jawa, digelar acara larung sesaji di danau kawah sebagai simbol Condro Sengkolo atau penolak bala dari kemarahan Lembu Suro, salah satu punggawa Kerajaan Majapahit yang gagal mempersunting putri Raja Kadiri Dewi Kilisuci. Masyarakat percaya roh Rakaryan Lembu Suro bersemayam di dasar danau kawah.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri Mujianto mengatakan, Gunung Kelud merupakan salah satu obyek wisata andalan di Kabupaten Kediri. Pembangunan obyek ini mendapat prioritas.

Menurut Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Kediri Sigit Rahardjo, ratusan miliar rupiah telah dikeluarkan untuk membiayai pembangunan obyek wisata Gunung Kelud, antara lain pengaspalan jalan dari Desa Sugihwaras sampai ke terowongan sejauh lebih kurang 5 kilometer, pembangunan tangga dari terowongan menuju danau kawah, dan pembangunan gardu pandang.

Pemkab Kediri juga sudah membangun sebuah aula yang akan disulap menjadi gedung bioskop yang khusus memutar film-film dokumenter tentang aktivitas Gunung Api Kelud.

Seiring berubahnya karakter danau kawah menjadi kubah lava, ada tambahan fasilitas baru berupa permandian air panas agar pengunjung tetap bisa menikmati hangatnya air dari perut Bumi.

Di tengah polemik tentang kondisi Gunung Kelud pascaletusan 2007, aktivitas pembangunan fisik praktis berhenti total, tetapi tidak dengan kunjungan wisatawan. Obyek wisata Kelud terus dipromosikan. Bahkan Dinas Pariwisata dan Dinas Pemasaran Kabupaten Kediri menyediakan tour leader atau pemandu wisata khusus yang bisa meminta petugas membukakan pintu pagar pembatas zona berbahaya.

(sumber: www.lipsus.kompas.com)