Sejarah Singkat Supriyadi

Masa penjajahan pemerintah Jepang di Indonesia jika dibandingkan dengan pemerintah kolonial Belanda memang jauh lebih singkat. Jika Belanda menduduki Indonesia kira-kira tiga setengah abad, masa kependudukan Jepang hanya berlangsung sekitar 3 tahun. Namun, penderitaan yang dialami rakyat jauh lebih berat ketika Jepang menguasai Tanah Air. Kondisi sosial ekonomi Indonesia saat itu mengalami kekacauan, bahkan di ambang kehancuran.

Di samping itu, seperti halnya Belanda yang menerapkan sistem kerja paksa yang dikenal dengan istilah Rodi, demikian pula halnya dengan Jepang. Untuk kepentingan mereka, ratusan ribu orang dijadikan romusha (pekerja paksa). Para romusha diperintahkan untuk membuat benteng, jembatan dan jalan.

Para romusha dipekerjakan tanpa memperhitungkan beban kerja. Selain itu, penderitaan para romusha ditambah lagi dengan minimnya persediaan makanan serta kelangkaan obat-obatan sehingga korban jiwa pun berjatuhan. Keprihatinan terhadap kondisi para romusha itu sangat mengusik nurani Supriyadi.

Supriyadi adalah pejuang kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923. Sesudah menamatkan ELS (setingkat Sekolah Dasar), ia melanjutkan pendidikan ke MULO (setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), kemudian memasuki Sekolah Pamongpraja di Magelang.

Ketika bala tentara Jepang tiba di Indonesia, ia belum sempat menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Pamongpraja. Ia pun berganti haluan dengan memasuki Sekolah Menengah Tinggi dan mengikuti latihan pemuda (Seimendoyo) di Tangerang.

Bersamaan dengan terjadinya perang pasifik ketika itu, maka untuk membantu Jepang melawan sekutu, pemerintahan pendudukan Jepang menyadari pentingnya peran para pemuda pribumi. Untuk tujuan itu, Jepang pun mendirikan sebuah kelompok tentara yang dinamakan PETA (Tentara Pembela Tanah Air) pada bulan Oktober 1943. Tujuannya, untuk memberikan latihan kemiliteran kepada pemuda-pemuda Indonesia dengan maksud, mereka nanti akan dipakai untuk membantu Jepang menahan serbuan Sekutu.

Walau tadinya dimaksudkan untuk membantu pasukan Jepang, namun pada kesempatan itu tokoh-tokoh pergerakan nasional juga berhasil menanamkan jiwa kebangsaan kepada pemuda-pemuda anggota PETA tersebut.

Supriyadi sendiri merupakan salah satu pemuda yang menjadi anggota PETA dan yang kemudian diangkat menjadi Shodanco di daerah Blitar. Ia ditugaskan untuk mengawasi pekerjaan para romusha. Karena pekerjaannya itu, ia sering melihat dengan jelas bagaimana kekejian dan kesewenang-wenangan yang dilakukan tentara Jepang kepada kaum sebangsanya, Indonesia.

Tidak terjaminnya makanan serta kesehatan, menambah penderitaan para romusha sehingga mengakibatkan banyak dari para pekerja paksa itu yang meninggal dunia. Melihat kenyataan memilukan tersebut, hati Supriyadi sangat tersentuh. Sejak itu, di dalam hati Supriyadi timbul niat untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Dengan beberapa orang temannya, ia pun merencanakan pemberontakan melawan Jepang. Walaupun ia sadar bahwa kekuatan Jepang sangat sulit ditandingi, namun ia tetap bertekad melakukan perlawanan.

Sebelum niat itu terlaksana, dalam suatu kesempatan ketika  Bung Karno berada di Blitar untuk mengunjungi orangtuanya, Supriyadi dan sekelompok perwira lainnya sempat meminta saran  Bung Karno. Ketika itu,  Bung Karno menyarankan agar para perwira itu mempertimbangkan segala kemungkinan. Bung Karno yang menerapkan taktik kerjasama sejak awal kedatangan Jepang mengatakan, bahwa Supriyadi Cs masih terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu. Namun, dengan jiwa mudanya, Supriyadi yang menjadi pemimpin para perwira itu memiliki keyakinan kuat bahwa aksi pemberontakan mereka itu akan berhasil.

Tanggal 14 Februari 1945 dinihari, pemberontakan pun dilancarkan di Daidan Blitar. Korban jiwa dari pihak tentara Jepang pun berjatuhan. Jepang yang merasa sangat terkejut dengan aksi pemberontakan tersebut mengerahkan kekuatan yang besar untuk menumpas para pemberontak yang juga merupakan anggota-anggota pasukan Peta Blitar. Selain melakukan penangkapan, siasat membujuk beberapa tokoh pemberontak juga dilakukan.

Kurangnya pengalaman serta kekuatan yang tak seimbang, gerakan tersebut dapat diatasi oleh Jepang. Tokoh-tokoh pemberontak yang berhasil ditangkap kemudian diadili di mahkamah militer Jepang. Di antara mereka ada enam orang yang dijatuhi hukuman mati, tiga orang hukuman seumur hidup dan yang lain mendapat ganjaran hukuman bervariasi mulai dari tiga hingga lima belas tahun.

Tapi ketika hendak dieksekusi, Supriyadi sebagai pemimpin gerakan tersebut tidak termasuk dalam nama kelompok yang dieksekusi. Bahkan, pada waktu persidangan pun namanya tidak ikut disebut. Ketika pemerintah RI dengan Maklumat Pemerintah RI pada tanggal 6 Oktober 1945 mengangkat Supriyadi sebagai

Menteri Keamanan Rakyat dalam kabinet RI yang pertama, pemimpin perlawanan PETA itu juga tak muncul. Rupanya setelah berhasil ditangkap Jepang, ia langsung dibunuh. Karena itu pula, sampai saat ini tidak ada yang mengetahui di mana makam Supriyadi berada.

Atas jasa-jasanya pada negara, Supriyadi diberi gelar pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 063/TK/Tahun 1975, tanggal 9 Agustus 1975

 

(Sumber: www.tokohindonesia.com)

 

7 Orang dalam Sejarah Indonesia yang Belum Terungkap

Sejarah mencatat, paling tidak ada 7 orang misterius di Indonesia yang sebenarnya layak di ketahui keberadaan serta perannya apabila orang-orang tersebut benar-benar ada. Tetapi sayangnya, mereka tetaplah misterius dan tentang keberadaannya sulit diketahui dengan pasti, bahkan beberapa di antaranya, makamnya sulit d temukan.

1. Supriyadi (PETA)



Siapa yang tidak kenal dengan sosok pahlawan satu ini. Supriyadi adalah pahlawan nasional, pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air ( PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945.

Ia ditunjuk sebagai menteri keamanan rakyat pada kabinet pertama Indonesia, namun tidak pernah muncul untuk menempati jabatan tersebut.

Pada waktu itu, Supriyadi memimpin sebuah pasukan tentara bentukan Jepang yang beranggotakan orang-orang Indonesia. Karena kesewenangan dan diskriminasi tentara Jepang terhadap tentara PETA dan rakyat Indonesia, Supriyadi gundah.

Ia lantas memberontak bersama sejumlah rekannya sesama tentara PETA. Namun pemberontakannya tidak sukses. Pasukan pimpinan Supriyadi dikalahkan oleh pasukan bentukan Jepang lainnya, yang disebut Heiho.

Kabar yang berkembang kemudian, Supriyadi tewas. Tetapi, hingga kini tidak ditemukan mayat dan kuburannya. Oleh karena itu, meski telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah, keberadaan Supriyadi tetap misterius hingga kini. Sejarah yang ditulis pada buku-buku pelajaran sekolah pun menyebut Supriyadi hilang.

Namun yang membuat sosok Supriyadi semakin misterius adalah banyaknya kemunculan orang-orang yang mengaku sebagai Supriyadi. Salah satu yang cukup kontroversial adalah sebuah acara pembahasan buku 'Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno', yang diadakan di Toko Buku Gramedia di Jalan Pandanaran Semarang.



Andaryoko

Dalam acara itu, seorang pria sepuh bernama Andaryoko Wisnu Prabu membuka jati diri dia sesungguhnya. Dia mengaku sebagai Supriyadi, dan kini berusia 88 tahun.

Namun sampai sekarang pengakuan tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya, meski secara perawakan dan sejumlah saksi membenarkan klaim tersebut.

2. Tan Malaka



Salah satu sosok pahlawan nasional kita yang terlupakan. Mungkin salah satu (atau satu-satunya) sosok pahlawan yang memiliki kisah petualangan dari negara ke negara lain dan menjadi sosok yang paling dicari oleh Belanda dan banyak negara lain.

Selain itu, pada masa revolusi kemerdekaan keberadaannya selalu dicari oleh para pejuang pada saat itu ( termasuk oleh Bung Karno ) karena hobinya melakukan penyamaran untuk menghindari mata-mata musuh, sehingga sosoknya selalu misterius dan tidak banyak yang mengenal dengan pasti seperti apa sosok yang bernama asli Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka itu.

Namun sayangnya keberadaan dari tokoh aliran kiri ini hilang secara misterius dalam pergolakan revolusi kemerdekaan itu. Konon kabarnya Tan Malaka dibunuh pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya di daerah Kediri, Jawa Timur. Hingga kini makamnya tidak pernah bisa ditemukan.

3. Gunadarma (Borobudur)



Borobudur dan Gunadarma adalah dua nama yang tidak bisa terpisahkan. Dalam sejumlah literatur, Candi Borobudur diarsiteki oleh sekelompok kaum atau sekelompok Brahmana yang meletakkan dasar pada sebuah tempat pemujaannya dan kemudian entah beberapa waktu kemudian (kemungkinan bisa puluhan, ratusan atau malah ribuan) dibuatkan sebuah proyek mega raksasa, pemberian sebuah 'kulit' yang katanya dikepalai oleh seorang arsitek bernama Gunadarma.

Sedangkang siapa sebenarnya sekelompok kaum Brahmana yang terdahulu tidak diketemukan catatan resmi tentang mereka, kemudian cerita tentang kepala penanggung jawab mega proyek pembuatan 'kulit' situs tersebut yaitu Gunadarma juga tidak ada sebuah keterangan resmi mengenainya, bisa jadi kata Gunadarma adalah sebuah kata simbol dan bukan merupakan nama seseorang.

Kalau memang benar Gunadarma yang mengarsiteki pembangunan Candi Borobudur, maka perlu kita acungi jempol bagaimana Gunadarma melakukan perencanaan yang tepat dengan kondisi teknologi yang pada saat itu belum begitu canggih. Namun sampai saat ini nama Gunadarma dan Borobudur itu sendiri masih menjadi misteri yang belum bisa diungkapkan dengan tuntas.

4. Ki Panji Kusmin



Suatu ketika majalah Sastra, dengan cetakan tahun VI No. 48, Agustus 1968, memuat sebuah cerpen yang berjudul Langit Makin Mendung yang dikarang oleh Ki Panji Kusmin (diduga ini nama samaran). Cerpen ini bercerita tentang Nabi Muhammad yang memohon izin kepada Tuhan untuk menjenguk umatnya.

Disertai Malaikat Jibril, dengan menumpang Bouraq, Nabi mengunjungi Bumi. Namun Bouroq bertabrakan dengan satelit Sputnik sehingga Nabi serta Malaikat Jibril terlempar dan mendarat di atas Jakarta.

Di situ Nabi menyaksikan betapa umatnya telah menjadi umat yang bobrok. Cerpen ini adalah sindiran terhadap laku keagamaan masyarakat luas yang 'menyimpang' pada waktu yang belum jauh berselang dari terjadinya tragedi 1965.

Namun akibat penerbitan Cerpen yang bikin heboh umat ini, Ki Panji Kusmin dituduh telah melakukan penodaan terhadap agama karena mempersonifikasikan Tuhan, Nabi Muhammad, dan Malaikat Jibril.

Tanpa ampun lagi H.B. Jassin selaku penanggung jawab majalah itu dibawa ke pengadilan dan dipaksa untuk mengungkap siapa sebenarnya Ki Panji Kusmin. H.B. Jassin menolak untuk mengungkap jati diri Ki Panji Kusmin.

Untuk itu ia dituntut Pengadilan Tinggi Medan dan divonis in absentia berupa kurungan selama satu tahun dan masa percobaan dua tahun. Dan sampai saat ini pun identitas dari Ki Panji Kusmin tidak terungkap dan dibawa hingga ke liang lahat oleh H.B. Jassin.

 5. Imam Sayuti alias Tebo



Suatu hari, pada 1970 hiduplah sepasang suami - istri Fai dan Nasikah di lereng Gunung Watungan, Desa Wuluhan, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Fai bekerja sebagai kuli bangunan, istrinya membantu mencari kayu di hutan Ambulu. Masih pengantin baru, konon mereka belum sempat berhubungan suami - istri, Fai pergi ke kota untuk bekerja di proyek. Fai pun pamit untuk jangka waktu lama.

Ternyata, baru tiga hari pamitan, ‘Fai’ pulang lagi menemui Nasikah. (Dipercaya sebagai gendruwo atau makhluk halus. Postur, cara bicara, suara, dan perilakunya persis Fai, sang suami asl ). Nah, si gendruwo yang menyamar sebagai Fai ini kemudian menyetubuhi Nasikah.

Nasikah, wanita desa itu, tenang-tenang saja karena menganggap 'laki - laki' itu suaminya yang sah. Bulan ketujuh Nasikah hamil, Fai palsu pamit. Datanglah Fai yang asli.

Maka gegerlah sudah keluarga baru ini. Untung saja, ulama terkemuka di Ambulu meminta Fai untuk bersabar karena istrinya tidak selingkuh. Ada pesan atau isyarat spiritual yang terjadi dengan istrinya.

Lalu, lahirlah bayi penuh rambut di tubuh dengan bintik-bintik merah. Orang tuanya memberi nama Imam Sayuti. Tapi laki-laki kekar ini diberi nama gaib, Tebo, sesuai dengan petunjuk 'dari langit'. Tebo kemudian diasuh oleh pasangan suami - istri ini layaknya anak mereka sendiri.

Sosok ini cukup menarik perhatian ketika Tebo dititipkan oleh manajer Wahana Misteri (Penyelenggara pameran yang berkaitan dengan hal-hal gaib) pada tahun 1990 dan menjadi bintang pameran di sana. Akhirnya kontroversi keberadaan sosok ini merebak.

Tentu suatu hal yang ganjil jika ada makhluk alam lain bisa 'bersetubuh' dengan manusia dan melahirkan manusia 'gado - gado'. Hingga saat ini belum ada penelitian yang lebih ilmiah untuk membuktikan keberadaan 'makhluk' ini.

6. Perobek Bendera Belanda di Hotel Oranje



Peristiwa 10 November 1945 tentu tidak lepas dari dipicunya oleh salah satu peristiwa yang paling heroik, yaitu perobekan bendera Belanda di atas Hotel Oranje. Kisah ini dipicu oleh berita bahwa di Hotel Oranje di Tunjungan telah dikibarkan bendera Belanda merah-putih-biru oleh Mr Ploegman.

Tentu saja hal tersebut tidak diterima oleh para arek-arek Suroboyo yang merasa pengibaran bendera tersebut dianggap sebagai penghinaan sebagai bangsa yang merdeka.

Pada akhirnya Mr. Ploegman dibunuh oleh seorang pemuda yang mendekati dirinya tanpa ia ketahui dan menusukkan pisaunya bertubi-tubi. Pada saat itu Mr. Ploegman menghadapi ribuan massa di depan hotel yang menuntut penurunan bendera triwarna tersebut. Teriakan untuk menurunkan bendera kian membahana.

Sejumlah pemuda telah membawa tangga untuk naik ke atap hotel, terdapat 8 sampai 10 pemuda. Dari atap ada yang naik ke tiang bendera dalam gemuruh teriakan, lalu bagian biru bendera itu pun dirobek, dan jadilah kini 'Sang Merah Putih' yang berkibaran di angkasa.

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang menjadi perobek bendera tersebut? Dalam kondisi yang sangat kacau dan penuh massa, tentu tidak mudah bagi para saksi sejarah untuk mengetahui secara pasti siapakah yang melakukannya.

7. Penulis Buku Darmogandhul



Mungkin di antara karya-karya sastra kuno berbahasa Jawa, kitab Darmogandhul adalah salah satu sastra Jawa yang sangat kontroversial. Selain isinya banyak memutarbalikkan ajaran agama tertentu, juga kitab ini sarat dengan sejumlah keganjilan-keganjilan sejarah sebenarnya.

Walaupun menggunakan latar belakang kisah runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak Bintara, namun kisah Darmogandhul mencuatkan hal-hal yang tidak masuk akal pada zamannya. Hal ini didapati pada untaian kisah berikut:

… wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis, … Maksudnya: Pasukan Majapahit menembak dengan senapan, sedangkan pasukan Giri berguguran akibat tidak kuat menerima timah panas.

 

Apakah zaman itu sudah digunakan senjata api dalam berperang? Hal tersebut tidak mungkin sebab senjata api baru dikenal sejak kedatangan bangsa Eropa ke bumi Nusantara.

Darmogandhul ditulis setelah kedatangan bangsa Eropa, bukan pada saat peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Demak Bintara.

Lalu siapakah sebenarnya penulis kitab ini? Sampai saat ini belum ada yang bisa menunjukkan secara pasti siapakah pengarang kitab 'ngawur' ini. Namun dari sejumlah analisis tulisan dan latar belakang sejarah dalam kitab itu, Darmogandhul ditulis pada masa penjajahan Belanda.

Penulis Darmogandul bukan orang yang tahu persis sebab-sebab keruntuhan Majapahit yakni Perang Paregreg yang menghancurkan sistem politik dan kekuasaan Majapahit, juga hilangnya pengaruh agama Hindu.

Kitab Darmogandhul diduga hanya produk rekayasa sastra Jawa yang dipergunakan untuk kepentingan penjajah Belanda.

Sumber: (www.sulaimanblackwater.blogspot.com)